Program Kesmas Yang Kian Hari Makin Seksi

Dipublikasikan Pada : Rabu, 08 Februari 2017, Dibaca : 1232 Kali  

Sesditjen Kesmas, dr.Kuwat Sri Hudoyo, MS, didampingi Ka.Bag.Keuangan ketika memberi arahan di depan peserta pertemuan

BEKASI---Dengan dicanangkannya Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) di sepuluh tempat di Indonesia pada beberapa waktu lalu,  program Kesehatan Masyarakat (Kesmas) menjadi primadona, yang dirasa kian hari tambah seksi.  Hal ini disampaikan Sekretaris Ditjen Kesmas, dr.Kuwat Sri Hudoyo, MS  dihadapan para peserta pertemuan Penelitian/Penelahaan DIPA Satker  di Lingkungan Ditjen Kesehatan Masyarakat Tahun Anggaran 2017, di Hotel Horison Bekasi, pada Senin malam (6/2) lalu.

 

“Pada beberapa hari lalu, presiden Jokowi saat melakukan kunjungan kerjanya ke daerah selalu membawa bingkisan biskuit untuk dibagikan sebagai makanan tambahan. Ini menjadi bagian dari Germas juga”, ujar Sesditjen.

 

Saat ini, Indonesia tengah menghadapi tantangan besar yakni masalah kesehatan triple burden, karena masih adanya penyakit infeksi, meningkatnya penyakit tidak menular (PTM) dan penyakit-penyakit yang seharusnya sudah teratasi muncul kembali. Pada era 1990, penyakit menular seperti ISPA, Tuberkulosis dan Diare merupakan penyakit terbanyak dalam pelayanan kesehatan. Namun, perubahan gaya hidup masyarakat menjadi salah satu penyebab terjadinya pergeseran pola penyakit (transisi epidemiologi).

Para peserta pertemuan Bedah DIPA 2017 di Hotel Horison Bekasi

Sebuah pembelajaran berharga di era jaminan kesehatan nasional (JKN), anggaran banyak terserap untuk membiayai penyakit katastropik, yaitu: PJK, Gagal Ginjal Kronik, Kanker, dan Stroke. Selain itu, pelayanan kesehatan peserta JKN juga didominasi pada pembiayaan kesehatan di tingkat lanjutan dibandingkan di tingkat dasar. Fakta ini perlu ditindaklanjuti karena berpotensi menjadi beban yang luar biasa terhadap keuangan negara.

 

Meningkatnya PTM dapat menurunkan produktivitas sumber daya manusia, bahkan kualitas generasi bangsa. Hal ini berdampak pula pada besarnya beban pemerintah karena penanganan PTM membutuhkan biaya yang besar. Pada akhirnya, kesehatan akan sangat mempengaruhi pembangunan sosial dan ekonomi.

 

GERMAS merupakan gerakan nasional yang diprakarsai oleh Presiden RI yang mengedepankan upaya promotif dan preventif, tanpa mengesampingkan upaya kuratif-rehabilitatif dengan melibatkan seluruh komponen bangsa dalam memasyarakatkan paradigma sehat.

 

Untuk menyukseskan GERMAS, tidak bisa hanya mengandalkan peran sektor kesehatan saja. Peran Kementerian dan Lembaga di sektor lainnya juga turut menentukan, dan ditunjang peran serta seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari individu, keluarga, dan masyarakat dalam mempraktekkan pola hidup sehat, akademisi, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, dan organisasi profesi dalam menggerakkan anggotanya untuk berperilaku sehat; serta Pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah dalam menyiapkan sarana dan prasarana pendukung, memantau dan mengevaluasi pelaksanaannya.

 

Di sela-sela kesempatan itu, dr.Kuwat menyampaikan, bahwa ke depan, semarak Germas akan terus bergema dan program Kesmas juga akan terus menjadi trending topic di Kementerian Kesehatan.

 

“Untuk itu jangan iri bila angarannya juga nanti akan ikut meninggi”, kata dr.Kuwat sambil berkelakar.

 

Pertemuan yang berlangsung 6-9 Februari itu, selaian dihadiri para Kasubag Tata Usaha, Pejabat Pembuat Komitmen dan Bendahara Pengeluaran dari masing-masing Direktorat dan UPT di lingkungan Ditjen Kesehatan Masyarakat, juga diikuti oleh oleh 18  kepala Bidang yang membawahi program Kesmas (Dekon 03) di provinsi, masing-masing dari provinsi DKI Jakarta, Jabar, Banten, Sulbar, Aceh, Sumut, Kepri, Babel, Bengkulu, Sumbar, Riau, Jambi, Sumsl, Lampung, Jogyakarta, Sulbar, Gorontalo, Papua dan Papua Barat. –(fey)-