Penilaian Cepat Bidang Kesling Pasca Bencana Bitung

Dipublikasikan Pada : Sabtu, 04 Februari 2017, Dibaca : 912 Kali  

Akibat struktur tanah yang labil serta letak yang berada di garis pantai  hampir seluruh wilayah yang ada di Kota Bitung, Sulawesi Utara rentan terhadap bencana. Ancaman longsor, banjir hingga air pasang dan tsunami, setiap saat mengintai warga Kota Bitung. Kecamatan Pulau Lembeh Utara yang berada di wilayah Pulau Lembeh merupakan daerah yang sangat berpotensi terhadap terjadinya tanah longsor mengingat struktur tanah yang labil. Sementara untuk kecamatan yang lain yang berada di daratan Bitung, seperti Kecamatan Madidir, Kecamatan Maesa,Kecamatan Matuari dan Kecamatan Aertembaga, rawan terhadapterjadinya banjir.

 

Berkaitan dengan adanya bencana alam yang terjadi di 2 Kecamatan di Kota Bitung pada 26 Januari 2017 lalu, maka pada 4 Februari 2017 dilakukan kegiatan penilaian cepat bidang kesehatan lingkungan (REHA) pasca bencana tanah longsor di Kelurahan Binuang Kecamatan Pulau Lembeh Utara dan pasca bencana banjir di Kelurahan Aertembaga Dua, Kecamatan Aertembaga, yang dilakukan sub klaster kesehatan lingkungan.

 

Apa itu REHA?

REHA (Rapid Environmental Health Assessment)  pada dasarnya merupakan bagian dari Rapid Health Assessment (RHA) dalam kegiatan pengumpulan, pengolahan dan analisis data/informasi tentang kondisi kesehatan lingkungan akibat bencana serta perubahan kehidupan masyarakat yang mengalami bencana.

Hal apa saja yang dilakukan penilaian dalam REHA?

  1. Tempat Pengungsian
  2. Sumber Air Bersih
  3. Pembuangan kotoran
  4. Pembuangan limbah
  5. Vektor
  6. Pengelolaan makanan
  7. Potensi yang ada : Jumlah tenaga sanitarian & Potensi alam / sumber air bersih yg ada
  8. Logistik kedaruratan kesehatan lingkungan

 

BENCANA TANAH LONGSOR

Ket : Kondisi tanah longsor

Kejadian bencana tanah longsor di Kelurahan Binuang Kecamatan Pulau Lembeh Utara terjadi akibat hujan dengan intensitas tinggi. Tanah longsor yg terjadi pada  tanggal 26 januari 2017 sekitar pkl 07.00 berlangsung di 3 titik yaitu di Kampung Islam, Kampung Kristen  dan Kampung Gora yang mengakibatkan 8 rumah rusak berat (1 rumah di Kampung Islam, 2 rumah di Kampung Kristen  dan 5 rumah di Kampung Gora) dan 63 jiwa harus mengungsi ke rumah tetangga atau sanak saudara ; 1 masjid tertimbun tanah dan sarana air bersih perpipaan di kampung islam terputus (sumber mata air).

 

Sampai dengan tanggal 4 februari 2017  situasi dan kondisi di 3 kampung tersebut yang terkena dampak tanah longsor sudah kondusif dan masyarakat yg tersampak sudah kembali ke rumah masing-masing kecuali masyarakat yang rumahnya rusak  parah tetap masih mengungsi di rumah sanak saudara atau tetangga.

 

Upaya bersama dilakukan pemerintah Kota Bitung dengan masyarakat berupa bantuan sembako kepada para pengungsi dari dinsos, pengobatan masal dari puskesmas pintu kota, pembersihan longsoran tanah di sekitar permukiman dan masjid, pembersihan longsoran tanah yang menutup jalan, perbaikan saluran perpipaan yang rusak akibat tanah longsor.

 

Ket : Jalan penghubung antar kampung yang sudah normal kembali

 

Ket : Sarana Air Bersih PMA yang sudah kembali normal pasca bencana

 

BENCANA BANJIR

Banjir yang terjadi di Kelurahan Aertembaga Dua, Kecamatan Aertembaga diakibatkan karena curah hujan yang tinggi pada tanggal 26 januari 2017 yang mengakibatkan rumah dari 601 jiwa / 135 KK terendam air dengan ketinggian +/- 1 meter.

 

Sampai dengan tanggal 4 februari 2017 air sudah surut tetapi pada beberapa lokasi masih terdapat genangan air setinggi 5 - 10 cm. Hal tersebut diakibatkan karena adanya proyek codetan sungai ke laut yang bermasalah, dimana proyek terhenti karena masalah pembebasan lahan yang belum terselesaikan. Proyek codetan sungai yang terhenti sementara galian tanah sudah menumpuk, mengakibatkan air rawa saat hujan tidak bisa mengalir ke daerah resapan air malah mengalir ke permukiman.

Ket : Rawa yang menjadi daerah resapan air di wilayah Kelurahan Aertembaga Dua

Dari hasil assessment yang dilakukan dan dalam rangka pengendalian faktor risiko lingkungan dan pencegahan penyakit berbasis lingkungan pasca banjir, maka yang haru segera dilakukan adalah melakukan disinfeksi ke semua sarana air bersih (SGL) yang terkena dampak banjir dengan kaporit, pengambilan sampel dan uji kualitas air secara mikrobiologi oleh BTKLPP Kelas I Manado di Kelurahan Aertembaga Dua, Kecamatan Aertembaga, membersihkan drainase/saluran air yang telah mampet akibat sampah, melakukan pembersihan tumpukan tanah galian akibat proyek codetan sungai, Dinas Kesehatan Kota Bitung berkoordinasi dengan instansi terkait sebagai pelaksana proyek sodetan sungai, tanah bekas galian proyek sodetan sungai agar segera dibuang sehingga tidak menyumbat jalannya aliran air di rawa, Dinas kesehatan kota bitung melakukan pengendalian pencegahan penyakit pasca banjir, Dinas kesehatan melakukan promosi kesehatan dengan melakukan gerakan masyarakat hidup sehat.Kebutuhan logistik kesling pasca banjir yang diperlukan adalah disinfektan air (kaporit) dan disinfektan lantai. (TS)