Intervensi Khusus di 100 Kab Kota dalam Pencegahan Stunting

Dipublikasikan Pada : Kamis, 15 Februari 2018, Dibaca : 422 Kali  

Tim Ditjen Kesmas Lansgung Memberikan Edukasi Kepada Keluarga yang Anaknya Masuk Kategori Stunting

JAKARTA - Saat ini kita dihadapkan pada Beban Gizi Ganda atau sering disebut Double Burden, yang artinya pada saat kita masih terus bekerja keras mengatasi masalah Kekurangan Gizi seperti Kurus, Stunting dan Anemia, namun pada saat yang sama kita juga harus menghadapi masalah kelebihan gizi atau Obesitas.

 

Stunting dapat terjadi sebagai akibat kekurangan gizi terutama pada saat 1000 HPK. Pemenuhan gizi dan pelayanan kesehatan pada ibu hamil perlu mendapat perhatian untuk mencegah terjadinya stunting. Stunting akan berpengaruh terhadap tingkat kecerdasan anak dan status kesehatan pada saat dewasa. Akibat kekurangan gizi pada 1000 HPK bersifat permanen dan sulit untuk diperbaiki.

 

Penanganan stunting membutuhkan sinergi program K/L yang secara regular telah dilaksanakan ialah, sosialisai dan edukasi. Program lainnya ialah penguatan pelayanankesehatan dasar berkualitas; pembangunan infrastruktur air minum dan sanitasi serta lainnya. K/L juga perlu melakukan penguatan dan penajaman terkait penanganan stunting seperti, melaksanakan kegiatan K/L agar dapat menjangkau kelompok yang lebih luas. Tahun 2018 pemerintah melakukan intervensi khusus kepada 100 kabupaten Kota dari seluruh Indonesia untuk penanggulangan Stunting. Dalam rangka mengurangi serta menangani prevelensi stunting Pemerintah ditingkat Pusat mengeluarkan kebijakan serta regulasi yang diharapkan dapat berkontribusi pada pengurangan prevelensi stunting, sehingga diperlukan koordinasi lintas sektor, dan pemangku kepentingan baik dari pusat, daerah, dunia usaha, masyarakat umum dan lainnya.

 

Awal Februari ini Tim Ditjen Kesmas melakukan edukasi langsung ke Kab Rokan Hulu, Brebes, Lombok Tengah, kegiatan yang dilakukan melalui promosi kesehatan seperti : 1) Penyegaran orientasi kader kesehatan secara terpadu, 2) penyuluhan kelompok tentang program kesehatan masyarakat, 3) survai mawas diri, 4) Advokasi tingkat desa dan kecamatan bidang kesehatan, 5) penggerakan keluarga masyarakat untuk mendukung program kesehatan, 6) pembinaan kelompok beserta masyarakat, 7) penggalangan dukungan masyarakat, lintas sektor dan dunia usaha, 8) tenaga kontrak promotor kesehatan di puskesmas, 9) Promosi kesehatan KIT di Puskesmas.

 

Selain itu salah satu upaya promotif preventif dalam rangka menanggulangi berbagai masalah gizi dan kesehatan tersebut, Kementerian Kesehatan telah mencanangkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dengan fokus pada 3 (tiga) kegiatan yaitu meningkatkan aktifitas fisik, konsumsi sayur dan buah,dan deteksi dini penyakit. (bgs)