Integrasi Pemberdayaan Masyarakat Untuk Mendukung Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit

Dipublikasikan Pada : Rabu, 27 Februari 2019, Dibaca : 219 Kali  

Serpong - Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan harus melibatkan pemerintah pusat dan daerah, lintas sektor dan swasta, serta seluruh masyarakat melalui advokasi, kemitraan, dan pemberdayaan masyarakat.

 

Pemberdayaan masyarakat sebagai suatu proses yang membangun kemandirian masyarakat yang dapat diwujudkan melalui pengembangan kemampuan masyarakat, perubahan perilaku masyarakat, pengorganisasian masyarakat, dan peningkatan pemanfaatan potensi lokal.

 

Hal itu ditekankan oleh Direktur Jenderal Kesehatan masyarakat dr. Kirana Pritasari, MQIH pada panel pembicara dalam Rapat Koordinasi Teknis Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) yang dilaksanakan di ICE BSD (25/2). 

 

P2P dan Kesmas dalam melaksanakan kegiatannya memiliki sasaran yang sama mengikuti siklus hidup manusia, akan lebih baik jika ada integrasi diantara keduanya. Kondisi saat ini posyandu yang terdiri dari posyandu balita, posyandu remaja, posbindu, dan posyandu lansia belum terintegrasi dengan baik. Kedepannya keempat posyandu dapat terintegrasi menjadi posyandu terintegrasi.

 

Kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui UKBM yang berkaitan dengan P2P pada setiap siklus hidup yaitu:
 
  1. Ibu hamil/janin misalnya kesehatan ibu hamil, deteksi dini malaria, HIV/AIDS, TBC, hepatitis
  2. Bayi dan balita misalnya MTBS dan imunisasi
  3. Anak usia sekolah seperti: pemantauan sarang nyamuk
  4. Remaja: kesehatan reproduksi
  5. Usia produktif: deteksi dini penyakit menular dan tidak menular
  6. Usia lanjut: deteksi dini penyakit, pengendalian penyakit menular dan penyakit tidak menular

(bgs)