Radiasi dan Kesehatan

Dipublikasikan Pada : Jum'at, 17 Maret 2017, Dibaca : 1278 Kali  

Apa yang dimaksud dengan radiasi?

Secara alami, setiap hari manusia terpapar radiasi. Radiasi adalah energi yang terpancar dari materi (atom) dalam bentuk partikel atau gelombang. Berdasarkan kemampuan dalam melakukan ionisasi, radiasi dapat dibedakan menjadi radiasi pengion dan radiasi non pengion. Radiasi pengion adalah radiasi yang jika menumbuk atau menabrak sesuatu, akan muncul partikel bermuatan listrik yang disebut ion (ionisasi). Radiasi non-pengion adalah radiasi yang tidak dapat menimbulkan ionisasi.

 

Apa saja sumber dan jenis radiasi?

Sumber radiasi di lingkungan secara alami dapat berasal dari sinar kosmik (angkasa luar) dan peluruhan radioaktif di permukaan bumi. Atmosfer bumi dapat mengurangi radiasi kosmik yang diterima oleh manusia. Tingkat radiasi dari sumber kosmik ini bergantung kepada ketinggian, yaitu radiasi yang diterima akan semakin besar apabila posisinya semakin tinggi. Radiasi di permukaan bumi berasal dari zat radioaktif yang sudah ada sejak awal terbentuknya bumi dan tersimpan di lapisan kerak bumi. Pada saat meluruh, zat radioaktif tersebut menghasilkan energi atau radiasi berupa partikel alpha dan beta, serta sinar (atau gelombang) gamma. Gas radon merupakan sumber radiasi alpha yang paling banyak di alam dan terbesar yang diterima manusia.

 

Bagaimana manusia terpapar radiasi?

 

Radon merupakan gas radioaktif yang muncul dari bebatuan dan tanah serta menyebar ke udara dalam rumah maupun tempat pertambangan bawah tanah. Sumber paparan radon dalam rumah berasal dari infiltrasi tanah, air tanah, serta material bangunan dengan radioaktivitas tinggi. Radiasi radon dalam bentuk partikel dapat masuk ke dalam media udara atau menempel di dalam debu sehingga dapat terhirup oleh manusia, juga dapat masuk ke air tanah dan tanaman pangan sehingga dapat tertelan oleh manusia. Gas radon apabila terhirup oleh manusia akan mengalami proses ionisasi dalam tubuh, khususnya di sel epitel paru. Kebiasaan merokok meningkatkan potensi gas radon yang mengakibatkan kanker pada sistem pernapasan.

 

Dimana lokasi dengan tingkat radiasi tinggi?

Beberapa wilayah di dunia memiliki tingkat radiasi alam yang sangat tinggi, seperti di daerah Ramsar-Iran, Guarapari-Brasil, Kelahar-India, dan Cina. Di Indonesia juga terdapat beberapa wilayah yang memiliki besar radiasi alam yang sangat tinggi. Biak, Maluku adalah daerah dengan konsentrasi Ra226 tertinggi mencapai 7500 Bq/kg (rerata nasional 33 Bq/kg). Mamuju, Sulawesi Barat merupakan daerah dengan konsentrasi Th232 tertinggi mencapai 3400 Bq/kg (rerata nasional 45 Bq/kg) dan konsentrasi K40 tertinggi mencapai 1500 Bq/kg (rerata nasional 142 Bq/kg). Laju dosis radiasi gamma lingkungan tertinggi terdapat di Mamuju, Sulawesi Barat mencapai 10.000 nSv/jam (rerata nasional 56 nSv/jam).

 

Apa dampak radiasi terhadap manusia?

Paparan radiasi pada tubuh manusia dapat mengionisasi molekul atau sel dan efek pada tubuh manusia akibat terpapar radiasi bergantung pada dosis radiasi yang diterima. Menurut Badan peneliti radiasi PBB (UNSCEAR), rata-rata dosis efektif radiasi per tahun yang diterima manusia dari alam adalah 2,4 mSv, terdiri dari radiasi kosmik (0,4 mSv), gamma (0,5 mSv), radon (1,2 mSv) dan radiasi internal (0,3 mSv). Pada paparan akut dengan dosis tinggi, efek radiasi dapat menyebabkan kematian sel, gangguan fungsi jaringan dan organ tubuh, bahkan kematian, hal ini disebut dengan efek deterministik. Radiasi juga menyebabkan terbentuknya sel baru yang tidak normal dan berpotensi kanker pada individu yang terpapar atau penyakit yang diturunkan pada keturunan, hal ini disebut dengan efek stokastik. Badan energi nuklir dunia (IAEA) menggolongkan radiasi sebagai zat karsinogenik, artinya radiasi pada dosis serendah berapa pun yang diterima manusia akan menyebabkan efek terhadap sel dan jaringan yang berpotensi kanker. Target organ paparan gas radon adalah sel epitel paru, sehingga dampak kesehatan akibat paparan gas radon adalah kanker paru. Namun tubuh manusia memiliki kemampuan mentoleransi paparan radiasi dan radioaktivitas yang ada di alam.

 

Bagaimana cara mengukur radiasi?

Badan kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan batas referensi paparan radon di udara pemukiman yang tidak menimbulkan efek kesehatan sebesar maksimal 100 Bq/m3. Pada wilayah khusus yang memiliki radiasi latar belakang tinggi (High Background Radiation Area, HBRA) direkomendasikan batas referensi paparan radon di udara pemukiman yang tidak menimbulkan efek kesehatan maksimal 300 Bq/m3 (atau setara dengan 10 mSv/tahun). Pengukuran radon dan radiasi gamma lingkungan mudah dilakukan, tetapi memerlukan prosedur standar untuk menjamin akurasi dan presisi dari suatu pengukuran. Pengukuran radon bisa dilakukan pada jangka pendek dan juga jangka panjang tetapi pengukuran radon secara terus menerus dalam jangka panjang lebih dapat diandalkan. Untuk radiasi gamma pengukuran sesaat bisa dipakai untuk memperkirakan dosis radiasi yang diterima dalam setahun.

 

Bagaimana cara mengamankan bangunan dari radiasi?

 

Paparan radon terbesar terjadi di tempat tinggal dan bangunan yang memungkinkan masyarakat terpapar untuk periode waktu yang lama seperti sekolah, fasilitas umum, dan penginapan. Kontribusi berbagai sumber radon adalah seperti masuknya gas dari tanah akibat perbedaan tekanan, pancaran radon dari bahan bangunan, dan radon dalam air. Mekanisme transpor radon yang paling penting adalah melalui aliran udara karena perbedaan tekanan udara (adveksi) dari tanah ke ruang yang ditempati dan perbedaan konsentrasi gas radon (difusi). Perbedaan tekanan udara antara tanah dan ruangan adalah penyebab utama masuknya radon sehingga strategi untuk menurunkan dalam ruangan dilakukan dengan membalikkan perbedaan tekanan tersebut. Hal ini umumnya dicapai dengan dua cara, yaitu: penurunan tekanan tanah secara aktif (menggunakan kipas angin) atau penurunan tekanan tanah secara pasif (tanpa menggunakan kipas angin).

 

Apa saja kiat hidup sehat dengan radiasi?

Menambah luas ventilasi rumah dengan memastikan minimal luas ventilasi 10% dari luas lantai. Selalu membuka jendela setiap hari. Memperbaiki dinding atau lantai yang retak. Menampung air dalam wadah untuk keperluan sehari-hari. Tidak tidur di lantai tanpa alas. Tidak merokok di dalam rumah. Tidak menggunakan bahan bangunan dengan radioaktivitas tinggi di dalam rumah/bangunan. Bila memperbaiki rumah, disarankan agar di bawah lantai perlu diberi bambu yang sudah dihilangkan buku-bukunya sehingga gas radon dan thoron dapat mengalir melalui bambu. Bila membangun rumah baru, disarankan untuk membangun jenis rumah panggung dan terbuat dari bahan-bahan yang kadar radionuklida alamnya rendah. (AP)