Rakornas STBM ke-3 KOLABORASI AKSI PERCEPATAN PEMENUHAN AKSES AIR MINUM DAN SANITASI 2019 UNTUK INDO

Dipublikasikan Pada : Kamis, 30 Maret 2017, Dibaca : 855 Kali  

Rakornas STBM ke-3

KOLABORASI AKSI PERCEPATAN PEMENUHAN AKSES AIR MINUM DAN SANITASI 2019 UNTUK INDONESIA SEHAT

Menkes membuka Rakornas STBM ke-3

Jakarta (20-23/3).Percepatan pemenuhan akses air minum dan sanitasi tahun 2019 untuk Indonesia Sehat merupakan perwujudan dari salah satu pilar nawacita kelima, yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui PROGRAM INDONESIA SEHAT. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Kesehatan RI Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K)pada pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Sanitasi Total Berbasis Mayarakat (Rakornas STBM) ke-3 yang dihadiri perwakilan Lintas Program/Lintas Sektor, Unsur Pemerintah daerah dari 34 provinsi dan Tim Penggerak PKK.

Lebih lanjut, Menkes menyatakan bahwa pendekatan keluarga merupakan paradigma baru pada pelayanan kesehatan yang melibatkan lintas sektor dan seluruh aktor pembangunan termasuk masyarakat.  “Termasuk pembangunan air minum dan sanitasi untuk mendukung terwujudnya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginga” tambah Menkes.

Sejalan dengan pernyataan Menkes, Dirjen Kesmas dr.  Anung Sugihantono, M.Kes juga menyampaikan diharapkan setelah pelaksanaan Rakornas STBM ini terwujud sinergi, kolaborasi dan akselerasi dari semua pihak baik pemerintah, sektor swasta, lembaga internasional dan LSM untuk berperan aktif dalam mendukung pencapaian universal akses air minum dan sanitasi tahun 2019.

Dirjen Kesmas juga mengingatkan bahwa kesehatan lingkungan erat kaitannya dengan masalah gizi salah satunya stunting. “Selain melakukan intervensi spesifik seperti imunisasi, program makanan tambahan ibu hamil dan balita, monitoring pertumbuhan balita di Posyandu, Kemenkes juga telah melakukan intervensi sensitif melalui penyediaan air bersih, perbaikan sanitasi, kegiatan penanggulangan kemiskinan, dan kesetaraan gender dengan sasaran masyarakat umum untuk mengatasi masalah gizi, salah satunya stunting”, tambah dr. Anung.

Pada kesempatan tersebut, juga dilakukan penandatanganan “Kesepakatan Pencapaian Universal Akses 2019 melalui Pendekatan STBM oleh Bappenas, Kemenpupera, Kemendagri dan Kemenkes. Penandatangan komitmen ini merupakan langkah awal untuk memperkuat kolaborasi aksi yang akan berlanjut hingga tercapainya target universal akses air minum dan sanitasi.

 

Rakornas STBM juga dihadiri oleh lembaga donor dan mitra yang bergerak di bidang pembangunan air minum dan sanitasi. Berbagai upaya telah dilakukan oleh lembaga donor dan mitra untuk  menyumbang percepatan akses air dan sanitasi serta menjadikan STBM lebih luas cakupannya melalui kegiatan yang dilakukan di wilayah dampingan masing-masing. Unicef telah mendampingi masyarakat agar tidak hanya sekedar bebas buang air besar sembarangan (Open Defecation Free/ODF), tetapi juga mampu meningkatkan kualitas sanitasi melalui tangga sanitasi.

MCAI melalui program kegiatan gizi berbasis masyarakatnya, tidak hanya sekedar memicu rumah tangga untuk sadar akan pentingnya sarana sanitasi di rumah, tetapi juga sadar akan gizi dan solusi mencegah stunting. Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui fatwanya Nomor 001/Munas-IX/MUI/2015 tentang pendayagunaan zakat, infaq, sedekah, dan wakaf untuk pembangunan sarana air bersih dan sanitasi bagi masyarakat, sebagai salah satu solusi untuk memecahkan masalah pendanaan dalam pembangunan sarana sanitasi.

Direktur Kesehatan Lingkungan, dr.Imran Agus Nurali, SpKO juga berkesempatan untuk berdiskusi bersama dengan para Eselon 2 lintas Kementerian dan peserta Rakornas.  Di akhir diskusi disepakat bahwa pemecahan masalah air dan sanitasi harus diselesaikan secara terintegrasi dan dimungkinkan untuk saling mengisi kebutuhan program masing-masing yang terkait dengan pemenuhan hak masyarakat akan akses air dan sanitasi. (IH)