Inovasi Untuk Generasi Unggul Nusa Tenggara Barat

Dipublikasikan Pada : Kamis, 26 April 2018, Dibaca : 460 Kali  

MATARAM - Pada tahun 2025 masyarakat Nusa Tenggara Barat diharapkan sudah mampu menciptakan generasi unggul yang disebut dengan generasi emas. Hal ini sudah dimulai sejak tahun 2014 ditandai dengan Program Generasi Emas NTB (GEN) yang menitikberatkan pada pembangunan sumber daya manusia dini yang tentunya diawali sejak dalam kandungan atau yang dikenal sebagai 1000 Hari Pertama Kehidupan.

 

"Sebuah grand strategi untuk membentuk manusia NTB yang bertaqwa, cerdas, sehat dan produktif pada tahun 2025" imbuh Plt. Kadinkes NTB Marjito, S.Si, SKM, M.Kes.

 

Intervensi khusus dilakukan pada 100 desa/kelurahan yang tersebar keseluruh kab/kota di NTB berupa Pemberdayaan Keluarga (PARANA), Penguatan Institusi pelayanan dasar, Koordinasi / Integrasi sumber daya serta intervensi umum berupa Penguatan program unggulan, Advokasi untuk perluasan program dan Advokasi anggaran.

 

Aktivitas Program Generasi Emas NTB

Untuk mendukung Program GEN tersebut, Dinkes Kesehatan Provinsi bersama Kab/kota serta lintas sektor lainnya melakukan inovasi khususnya dalam penanganan gizi, kesehatan ibu dan anak seperti Posyandu Keluarga, Sapu Bersih Gerakan Penanggulangan Gizi Buruk dan Kurang (Saber Gebuk), Gerakan Masyarakat Sadar Gizi (Gemadazi) dan banyak program-program inovatif lainnya.

 

Hal yang penting adalah para pendamping desa, kader, Bidan desa bersama Puskesmas yang memang menjadi ujung tombak pelaksanaan GEN di masyarakat, mereka dibekali dengan sarana komunikasi seperti tablet agar tetap mampu membuat laporan tentang perkembangan GEN. Selain itu bidan dan tenaga pendamping itu secara rutin mendapatkan pelatihan khusus untuk meningkatan kemampuan dan pengetahuan.

 

"Dengan adaya posyandu keluarga dan saber gebuk, kami bersama dokter desa, TPG desa, perawat pustu serta kader saling bekerjasama memberikan edukasi, penyuluhan, pelayanan kesehatan kepada ibu hamil, calon ibu hamil, lansia yang dilakukan terintegrasi sehingga kalau ada kasus atau masalah bisa dengan cepat diselesaikan"kata Dina Yuilia yang menjadi bidan desa pada Posyandu terintegrasi Pancor Mas 2 Dusun Monggal Bawah Desa Genggelang, Lombok Utara.

 

Pengalaman serupa juga dirasakan Kepala Puskesmas Gunungsari, Lombok Barat Akmal Rosamali yang menceritakan bahwa peran serta masyarakat di wilayah kerjanya sangat tinggi dan mempunyai kepedulian yang besar khususnya terhadap masalah kesehatan. Hal ini terlihat ketika pelaksanaan Posyandu Keluarga Kelapa Gading di Dusun Batu Butir Desa Kekait, mulai Kades, Kadus, Bidan desa serta kader saling bekerjasama. 

 

"Saya menjadi kader karena ingin mengabdi dan mambantu masyarakat dusun bersama Pak Kades, Pak Kadus khususnya remaja di daerahnya agar tetap sehat serta selallu melakukan kegiatan yang positif" cerita Haerul Wahid salah satu kader posyandu pria dari dusun Batu Butir. (bgs)