Untuk Menanggulangi Stunting: Ini Yang Diberikan Menkes Untuk NTT

Dipublikasikan Pada : Senin, 08 May 2017, Dibaca : 648 Kali  

JAKARTA--Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah provinsi yang tergolong daerah bermasalah kesehatan, salah satu masalah gizi yang masih membelenggu daerah ini adalah anak pendek (stunting). Menteri Kesehatan (Menkes).  Prof. Dr. Nila F. Moeloek, Sp.M(K), mengatakan NTT menempati urutan kedua dengan kasus stunting tertinggi di Indonesia setelah Sulawesi Barat. Balita pendek mencapai hampir 49%, lebih tinggi dari rata-rata persentase nasional sebesar 32 persen.

Kunjungan Menteri Kesehatan, Prof.Dr.Djuwita F. Moeloek, SpM di Provinsi NTT pada (3/5/217 - foto : Tribrata-News.

“Ini masih jadi masalah, karena stunting selalu diikuti dengan masalah otak, perkembangan kognitif. Anak stunting IQ tidak mencapai angka normal," kata Menkes di sela-sela kunjungannya ke Politeknik Kesehatan Kupang, NTT, seperti dikutip media Suara Pembaharuan (6/5) lalu.

 

Dikatakan Menkes, dengan IQ rendah akan sulit bagi anak untuk mencapai pendidikan tinggi. Jika pendidikan mereka rendah kelak tidak hanya menambah beban individu dan keluarga, tetapi juga bangsa.

 

Stunting adalah salah satu bentuk masalah gizi buruk di NTT yang disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya minimnya ketersediaan pangan bergizi dan perilaku atau budaya masyarakat. Hal itu dibenarkan Kepala Dinas Kesehatan NTT, Kornelius Kodi Mete, bahwa minimnya infrastruktur layanan kesehatan juga masih menjadi masalah. Masih banyak warga yang kesulitan mengakses layanan kesehatan lantaran lokasinya jauh dan buruknya transportasi publik. Ia mencontohkan, ada warga desa yang harus menempuh jarak 30 kilometer untuk sampai di fasilitas kesehatan terdekat. Akibatnya, warga enggan datang. "Kemampuan petugas kesehatan pun masih terbatas," ujarnya.

 

Untuk itu pada kunjungan kerjanya ke Nusa Tenggara Timur pada 3 Mei lalu, Menkes ikut mengantarkan 9 orang dokter spesialis yang menjadi peserta Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS).

 

“Di sini masih terjadi kesenjangan rasio dokter 1:100.000. Kami berterimakasih kepada peserta program WKDS dan juga progam PTT dokter umum yang juga bisa mengurangi rasio kesenjangan dokter”, tutur Menkes

 

Selain itu, Kemenkes akan terus mendorong peningkatan layanan, optimalisasi rujukan, dan pengembangan layanan inovasi daerah terpencil, juga akan berupaya menambah fasilitas kesehatan di NTT dan daerah-daerah lainnya di Indonesia timur. Ia juga akan berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk mendukung program Indonesia Sehat, misalnya dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam soal budaya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk sarana akses, serta Kementerian Komunikasi dan Informatika dalam hal pendukung jaringan Internet.

 

Pada kesempatan itu juga, Menteri Nila sempat menyatakan akan memprioritaskan pembangunan sarana kesehatan di perbatasan, seperti enam Puskesmas perbatasan NTT-Timor Leste yg akan digelontor anggaran rata-rata Rp. 8 miliar hingga Rp. 14 miliar.

 

"Kita akan bangun Puskesmas yang bagus sekali. Tolong dijaga tak boleh dikorup, jadi ini betul-betul harus jadi. Sehingga orang datang ke Puskesmas dengan senang hati,”, pintanya.---(fey)-