Rumah Tunggu Kelahiran, Cara NTT Menekan Angka Kematian Ibu dan Bayi

Dipublikasikan Pada : Rabu, 10 May 2017, Dibaca : 733 Kali  

JAKARTA--Nusa Tenggara Timur(NTT) merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki angka kematian ibu cukup tinggi. Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan 2016 menemukan, ada 305 ibu yang meninggal per 100 ribu penduduk. Untuk meredam angka kematian ibu dan bayi, pemerintah setempat meluncurkan berbagai program, antara lain Revolusi Kesehatan Ibu Anak (KIA) yang penerapannya salah satunya diwujudkan melalui Rumah Tunggu Kelahiran.

foto: Google-com

Seperti yang dilansir media Suara.Com pada (8/5) lalu, Rumah Tunggu Kelahiran Bijoba Di Timor Tengah Selatan NTT, yang letaknya perisis di seberang Puskesma Siso yang semula merupakan asrama dokter, sejak tahun 2015 diubah fungsi menjadi Rumah Tunggu kelahiran  yang telah membimbing 24 Bumil hingga April 2017.

                                    
Fungsi rumah itu untuk menjaga kondisi bumil tujuh hari sebelum dan sesudah melahirkan. Sehingga bumil yang ada di Rumah Tunggu Kelahiran ini dipastikan menjalani persalinan di Puskesmas Siso. Ibu hamil yang ada di Rumah Tunggu Kelahiran juga bisa mendapatkan pengetahuan dalam mempersiapkan diri sebagai ibu, seperti imbauan untuk inisiasi menyusui dini, pentingnya pemberian ASI eksklusif dan kecukupan gizi yang harus didapat calon buah hati lewat buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) yang dibagikan ke setiap ibu hamil. Mereka juga akan dipantau bagaimana kondisi kehamilannya, asupan apa yang harus dikonsumsi dan kita ada aktivitas senam hamil agar mereka lancar saat bersalin.

 

Rumah tunggu kelahiran Bijoba ini memang tak mewah. Dindingnya masih terbuat dari kayu, atapnya berbahan seng. Ada empat kamar tidur, satu ruang tengah, satu kamar mandi, satu dapur, dan satu gudang dalam Rumah Tunggu Kelahiran Bijoba ini. Namun antusiasme para bumil untuk menimba ilmu seputar kehamilan membuat rumah ini begitu hangat. Bahkan pihak pengeloa rumah tunggu mengisi hari para Bumil di rumah tunggu dg mengajak untuk melakukan kegiatan belajar tata cara menanam sayur atau buah organik. Harapannya mereka bisa menanam sendiri sumber pangan yang bergizi tanpa harus membeli atau jauh-jauh mencarinya.

 

Tentu saja karena letak rumah tunggu yang bersebrangan dengan Puskesmas Siso, membuat tenaga kesehatan bisa siaga selama 24 jam dalam mengontrol kondisi para bumil di Rumah Tunggu Kelahiran itu. Bagi warga yang tinggal cukup jauh dari Rumah Tunggu ini, pihak puskesmas akan menyediakan ambulans sehingga mempermudah jangkauan bumil ke fasilitas kesehatan. Semua ini dilakukan sebagai upaya menurunkan angka kematian ibu saat melahirkan dan bayi. Dan ketika Menteri Kesehatan, Dr.Nila F Moelok melakukan kunjungan kerja ke NTT pada 3 mei lalu brekesempatan utuk singgah di rumah tunggu itu.-(fey)-