Pemanfaatan DAK untuk Percepatan Penurunan AKI-AKB dan Stunting

Dipublikasikan Pada : Minggu, 23 Juni 2019, Dibaca : 278 Kali  

Bekasi - Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat (Ditjen Kesmas) RI gelar Rapat Koordinasi Teknis (Rakontek) Dana Alokasi Khusus (DAK) Kesehatan Masyarakat Tahun 2020 di Bekasi, pada 23-26 Juni 2019. Dengan di gelarnya Rakontek DAK Kesmas ini nantinya Kabupaten dan Kota bisa memanfaatkan DAK untuk percepatan penurunan AKI-AKB dan Stunting.

 

Upaya Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak dilakukan dengan berbagai upaya yang sejalan dengan Upaya Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi. Menurut data Sensus Penduduk 2010 Angka Kematian Ibu (AKI) sebesar 346 per 100.000 kelahiran hidup (SP 2010) yang menurun menjadi 305/100.000 KH (SUPAS 2015).

 

Untuk Angka Kematian Neonatan (AKN), dari data SDKI, dapat dilihat bahwa kematian neonatal tahun 2012 sebanyak 19/1.000KH dan AKN kembali menurun pada tahun 2017 menjadi 15/1.000 KH.

 

Stunting di Indonesia menjadi tertinggi kelima di dunia dan tertinggi di Asia Tenggara. Angka ini juga jauh lebih tinggi dari beberapa negara miskin di Afrika. Anak stunting di Indonesia tidak hanya terjadi di keluarga miskin dan kurang mampu, tetapi juga terjadi di keluarga mampu. Untuk itu diperlukan upaya penurunan stunting yang terdiri dari intervensi gizi spesifik dan sensitif.

 

Meskipun secara nasional stunting telah turun dari 37,2% tahun 2013 menjadi 30,8% pada tahun 2018, sesuai dengan program nasional, maka upaya percepatan penurunan stunting harus dilaksanakan secara multisectoral. Sampai tahun 2024, kita harus bisa menurunkan stunting menjadi 19%.

 

Upaya terobosan yang telah dilakukan antara lain: (1) Peningkatan akses & kualitas pelayanan KIA/KB, gizi, kesling, promkes - pemberdayaan masyarakat (LSM, swasta dll), (2) Konvergensi lintas sektor dan integrasi program, (3)Penguatan tata kelola program dan manajemen di daerah lokus stunting dan AKI-AKB, (4) Penguatan program kesehatan remaja (UKS, PKPR dan life skill education), (4) Kampanye Gizi Seimbang (ISI PIRINGKU), (5) Pemberdayaan masyarakat dalam peningkatan gizi keluarga (PMT lokal-PKTD), (6) Penguatan surveilans gizi di puskesmas melalui ePPGBM serta (7) Optimalisasi posyandu.

 

Lebih lanjut Dirjen Kesmas Kirana Pritasari mengatakan sebagai salah satu dukungan pembiayaan dalam penurunan AKI, AKB dan penguatan intervensi stunting di tahun 2020, Kementerian Kesehatan mengalokasikan DAK Fisik dan DAK Non Fisik. Pada Tahun 20120 Dirjen Kesmas mengusulkan DAK Fisik penugasan untuk penurunan AKI, AKB di 120 Kab/Kota, DAK Fisik penugasan penguatan intervensi stunting di 260 Kab/Kota dan DAK Fisik pebugasan dan pengendalian penyakit serta Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di 493 Kab/Kota. Sedangkan DAK Non Fisik melalui BOK dan Jampersal untuk 34 Provinsi dan 514 Kab/Kota.

 

''Mari kita berkomitmen dan melaksanakan peran dan kewenangan masing-masing melalui sinkronisasi dan integrasi, yang berkelanjutan untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan,'' katanya Minggu (23/6) di Bekasi.  

 

Dalam Rakontek DAK Kesmas ini juga di sampaikan Analisa Pemilihan 120 Kab/Kota yang menjadi Lokus AKI-AKB oleh Kepala Badan Litbangkes Siswanto serta menyerahkan Buku Profil lengkap dari 120 Kab/Kota yang menjadi Lokus kepada Dirjen Kesmas di akhir acara.(bgs)