Target Nol, Buka Rumah Tunggu Kelahiran

Dipublikasikan Pada : Jum'at, 24 Juni 2016, Dibaca : 1079 Kali  

Untitled2

Lantunan gending jawa mengiringi langkah Bupati Kediri menuju acara launching Rumah Tunggu Kelahiran (RTK) diiringi Cucuk lampah dengan pagar ayu yang selalu siap menjadi pelayan di bidang Kesehatan Ibu dan Anak. Pada 1 Juni 2016 Kab Kediri menorehkan sebuah gebrakan baru dalam perbaikan pelayanan kesehatan ibu dan bayi. Penurunan AKI dan AKB merupakan salah satu tujuan SDG’s pada poin ke 3 yaitu menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia yang tertuang dalam target sistem kesehatan nasional pada akhir tahun 2030 mengurangi Angka Kematian Ibu hingga dibawah 70/100.000 Kelahiran Hidup ( KH ) dan mengakhiri kematian bayi dan balita yang dapat dicegah, dengan seluruh negara berusaha menurunkan Angka Kematian Neonatal setidaknya hingga 12/1000 KH dan Angka Kematian Balita 25/1000 KH Demikian juga yang tertuang dalam Indikator Kinerja Utama ( IKU ) Kab Kediri dalam RPJMK 2016 - 2021. Pada kesempatan ini, Bupati Kediri dr. Hj. Haryanti Sutrisno berharap kedepannya Kabupaten Kediri akan mendapatkan angka kematian nol / zero seperti di negara-negara maju. Beliau juga mengatakan bahwa setelah tahun 2012, Kediri menjadi daerah fokus Kementerian Kesehatan karena menjadi daerah penyumbang AKI dan AKB yang cukup tinggi di Jawa Timur. Dalam sambutannya Bupati mengatakan, “Kabupaten Kediri telah melakukan gerakan yang cepat dan cerdas sehingga dari tahun ketahun angka penurunan kematian ibu semakin membaik dan pada tahun 2014 dapat menurunkan hingga separuh dari angka semula yang berhasil mendapatkan anugerah penghargaan Bupati dari Propinsi Jawa Timur atas komitmennya memberi dukungan terhadap kesehatan dalam Penurunan Kematian Ibu dan Bayi,  pada tahun 2015 penghargaan tersebut berhasil diraih kembali”. Meskipun penurunan kematian sudah sangat signifikan, tetapi Pemda Kabupaten Kediri tidak berpuas diri karena itu perlu langkah-langkah yang lebih kongrit diantaranya dengan membuka Rumah Tunggu Kelahiran (RTK) yang tujuannya adalah mendekatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi di fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai. Hal ini sangatlah tepat mengingat jumlah sasaran ibu hamil sebesar 27.185, ibu bersalin 25.950, dan bayi baru lahir 24.714. Beberapa daerah Kab. Kediri terletak dilokasi lereng gunung yaitu lereng Gunung Kelud dan lereng Gunung Wilis, diharapkan dengan hadirnya RTK, dapat mencegah 3 Terlambat (Terlambat Mengambil Keputusan, Terlambat mencapai Tempat Rujukan, Terlambat mendapat penanganan yang Adekuat). Acara dilanjutkan dengan prosesi pindahan rumah menggunakan adat jawa yang diawali dengan pengguntingan pita oleh Bupati diteruskan dengan kepruk kendil oleh Kepala Dinas Kesehatan Kab. Kediri dr. Adi Laksono dan membersihkan jalan sebagai penanda tolak bala atau musibah sehingga penghuninya diberikan keselamatan dan kemudahan. Dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng yang kemudian diserahkan kepada ibu hamil sebagai perlambang kesejahteraan masyarakat. Saat ini Pemkab menyiapkan 16 RTK, 4 diantaranya berada di sekitar Rumah Sakit salah satunya di Jl Bengawan Solo Desa Pelem Kecamatan Pare yang saat ini sedang diresmikan. Sedangkan 12 RTK yang lain berada di wilayah Puskesmas. Fungsi RTK yang berada di dekat Rumah Sakit adalah sebagai tempat tinggal sementara ibu hamil dengan pendampingnya ( suami, kader, atau keluarga ) dalam beberapa hari sampai menunggu persalinan yang sudah direncanakan dengan tenaga kesehatan Rumah Sakit baik pathologis maupun normal. RTK Rumah Sakit bisa digunakan oleh seluruh masyarakat dengan menggunakan prinsip regionalisasai rujukan sehingga harapannya tidak terjadi penumpukan di salah satu RTK. Operasional RTK sendiri didukung oleh berbagai pihak dengan memberikan kontribusi masing- masing sesuai dengan kemampuannya, dimana telah dilakukan pertemuan koordinasi dengan beberapa kesepakatan diantaranya adalah :
  1. Rumah Sakit se-Kab Kediri : Semua Rumah Sakit di Kab. Kediri, salah satunya adalah Rumah Sakit Gambiran Kota Kediri yang berkontribusi untuk memantau pasien dan melakukan penjemputan dari RTK.
  2. Organisasi Profesi dalam hal ini Ikatan Bidan Indonesia (IBI) : IBI berkontribusi dalam bentuk bakti sosial sekaligus sebagai ibu asuh dan ikut mengatur regulasi masyarakat yang membutuhkan RTK.
  3. Institusi Pendidikan : melakukan penyuluhan persiapan proses persalinan, persiapan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI Eksklusif, persiapan penggunaan kontrasepsi, persiapan pendidikan pola asuh dan pendidikan gizi keluarga di RTK.
  4. TP PKK Kabupaten dan Kecamatan : Melakukan sosialisasi program Jampersal & RTK ke wilayah Kecamatan dan Penggerakan masyarakat untuk lebih peduli dengan ibu hamil
Sedangkan Puskesmas berkewajiban : 1. Petugas / Pengelola KIA : RTK di Puskesmas :
  1. Menyiapkan persalinan normal
  2. Menyiapkan penggunaan kontrasepsi
  3. Pendidikan Pola asuh
RTK di Rumah Sakit :
  1. Memberi informasi ke Rumah Sakit perihal calon ibu bersalin
  2. Pendidikan Pola asuh
2. Petugas Gizi :
  1. Menyusun menu 10 hari
  2. Cara penyajian makanan
  3. Penyuluhan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan ASI Eksklusif
  4. Penyuluhan pendidikan gizi keluarga
  5. Penyuluhan Gizi menyusui
  6. Menentukan rekanan catering
3. Petugas Kesehatan Lingkungan :
  1. Penyuluhan Hygiene Sanitasi
  2. Cara penyajian makanan sesuai syarat - syarat kesehatan
  3. Mengatur Lingkungan
4. Promkes :
  1. Sosialisasi program RTK
  2. Mensosialisasikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)