Bebaskan Anak Dari Kekerasan

Dipublikasikan Pada : Senin, 01 Agustus 2016, Dibaca : 1276 Kali  

JAKARTA--Anak merupakan kelompok rentan untuk mengalami kekerasan Bila hal tersebut terjadi dampaknya tidak hanya fisik, namun juga psikis dan sosial. Hal ini bisa mengganggu gangguan kesehatan serta menghambat pertumbuhan dan perkembangannya.

Jika pertumbuhan dan perkembangan anak terganggu hal tersebut berdampak panjang di masa depannya. Sehingga diperlukan peran semua pihak mulai dari keluarga hingga sekolah untuk menciptakan lingkungan anak kondusif yang menghasilkan generasi yang tumbuh dan berkembang optimal.

Dirjen Kesmas, dr.Anung Sugiantono, M.Kes dan Direktur Kesga, dr.Eni Gustina, M.Kes, hadir pada acara puncak Hari Anak Nasional tahun 2016 di Jakarta

"Selayaknya kita bersama harus memberi perhatian besar pada pemantauan pertumbuhan dan perkembangan, sebagai upaya dalam menyiapkan generasi sehat dan berkualitas," ujar Dirjen Kesehatan Masyarakat, dr.Anung Sugiantono, M.Kes didampingi Direktur Kesehatan keluarga, dr.Eni Gustina, MPH, pada peringatan puncak Hari Anak Nasional (HAN) yang bertema 'Akhiri Kekerasan Anak' di area car free day depan kantor Kemendikbud, Jakarta, Minggu (31/7/2016).

Slide4Pada acara itu, selain dihadiri para pemerhati anak, unit terkait kesehatan, juga lebih dari 500 anak turut meramaikan jalannya acara tersebut. Pada kesempatan itu, dr. Anung mengajak semua pihak untuk terus meningkatkan pengetahuannya tentang kesehatan anak khususnya dalam hal pemantauan pertumbuhan dan perkembangan serta pencegahan kekerasan terhadap anak.

Keluarga sebagai lingkungan terkecil anak punya peran besar mencegah terjadinya kekerasan pada anak. Berikut enam pesan untuk pencegahan kekerasan di lingkup keluarga:

  1. Perbanyak komunikasi dengan anak, bicara terbuka dari hati ke hati.
  2. Mulai kenali anak dengan bagian-bagian tubuhnya dan jelaskan yang bersifat pribadi.
  3. Ajarkan anak untuk bersikap asertif dan berani mengatakan TIDAK untuk hal-hal yang tidak benar.
  4. Dampingi anak dalam menonton audio visual dan internet.
  5. Bekali anak dengan nilai-nilai moral, norma sosial dan agama sesuai dengan usia pemahaman anak
  6. Perbanyak komunikasi dengan guru tentang kondisi anak.

Hari Anak Nasional (HAN) diperingati setiap tanggal 23 Juli. Tema HAN Tahun 2016 adalah Akhiri Kekerasan Anak, sementara tema dalam bidang kesehatan adalah Membangun Budaya Positif dengan Memahami Tumbuh Kembang Anak Indonesia.

Anak-anak yang turut meramaikan jalannya acara Puncak Hari Anak Nasional tahun 2016

Peringatan HAN, merupakan salah satu bentuk kepedulian bangsa Indonesia terkait dengan pemenuhan hak anak untuk menjadi generasi penerus yang berkualitas, tangguh, kreatif, jujur, sehat, cerdas, berprestasi, dan berakhlak mulia.

Peringatan HAN juga mengingatkan kita, bahwa seluruh komponen bangsa, orang tua, keluarga, masyarakat termasuk dunia usaha, institusi pendidikan, profesi dan pemerintah mempunyai tanggung jawab dan kewajiban melaksanakan amanah Undang-undang  Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang saat ini telah diubah dalam Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014, serta Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dalam pemenuhan hak dan perlindungan kesehatan anak untuk meningkatkan kelangsungan dan kualitas hidup anak. –(fey)-