Lomba Ibu Dengan ASI Ekslusif Sebagai Wujud Penghargaan Kemenkes

Dipublikasikan Pada : Kamis, 02 Agustus 2018, Dibaca : 197 Kali  

Direktur Kesehatan Kerja & Olahraga, drg.Kartini Rustandi ketika memberikan sambutan pada Lomba Ibu Dengan ASI Ekslusif pada Selasa (31/7/2018) lalu.

JAKARTA--Pekerja adalah aset bangsa, namun jangan lupa bahwa pekerja juga berperan dalam membangun keluarga. Keluarga adalah bagian terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami, istri dan anak. Keluarga-keluarga pula yang turut  menentukan struktur masyarakat. Hal ini disampaikan Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga (Kesjor),drg. Kartini Rustandi, MKes, dalam sambutannya ketika membuka Lomba Ibu Dengan ASI Ekslusif tahun 2018, di aula Siwabessy, gedung Kementerian Jakarta pada Rabu (31/7/2018) kemarin.

 

Lomba yang diselenggarakan oleh Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga iru sebagai wujud pemberian penghargaan bagi pegawai di lingkungan Kementerian Kesehatan dalam mendukung keberhasilan ASI di tempat kerja.

Direktur Kesjor, drg.Kartini Rustandi bersama Balita peserta lomba.

Secara khusus dalam sambutannya itu, Direktur Kesjor menyoroti peran pekerja perempuan yang memiliki berbagai peran dan pilihan karir di dalam pekerjaan. Tetapi perempuan tetap memiliki peran utama yang sangat penting dalam membangun keluarga yang sehat dan mampu melahirkan generasi bangsa yang sehat dan berkarakter.

 

“Keluarga yang baik diciptakan oleh kerjasama yang harmonis antara suami, istri dan anak. Maka, keluarga yang sehat merupakan inti terbentuknya bangsa yang sehat.” ungkap Kartini.

 

Pada kesempatan tersebut, ia menyerukan pula untuk penyediaan ruang ASI di tempat kerjadalam mendukung pemberian ASI Eksklusif, makanan pendamping bagi optimalisasi tumbuh kembang anaknya.

 

''Seorang ibu harus memberikan ASI ekslusif dan makanan yang baik seoptimal mungkin agar anaknya terlahir secara berkualitas, di samping stimulasi dan kasih sayang'', tambah Kartini.

Suasana ketika para juri melakukan penilian terhadap peserta lomba

Ia katakan, Ibu bekerja umumnya mempunyai waktu yang terbatas untuk memberikan ASI secara langsung sehingga membutuhkan upaya lebih dalam memenuhi kebutuhan bayinya.  Pemberian ASI dilakukan dengan cara memerah ASI dan menyimpannya di tempat yang sesuai standar kesehatan perlu diperhatikan. 

 

Lebih jauh ia paparkan tentang data pekerja di kantor Kementerian Kesehatan yang berada di Rasuna Said, berjumlah 2.689 orang, di mana pekerja perempuan yang berusia produktif diperkirakan 48% atau sekitar 1.075 orang. Jumlah ibu hamil per April tahun 2018 sebanyak 74 orang dan ibu menyusui sebanyak 70 orang. Tetapi hasil Riskesdas 2013 menunjukkan cakupan ASI ekslusif baru mencapai 41,9%.

 

Salah satu faktor penyebab kegagalan pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja adalah waktu kerja selama 8 jam menyebabkan ibu tidak memiliki waktu yang cukup untuk menyusui anaknya.

 

“Keadaan ini menjadi masalah apabila tempat kerja tidak memberikan kesempatan untuk memerah ASI, tidak menyediakan ruang ASI dan kurangnya pembinaan pemberi kerja mengenai manajemen ASI.” tegasnya.

 

Padahal, Indonesia mempunyai komitmen untuk melaksanakan “Deklarasi Innocenti“ tahun 1990 yang menyatakan bahwa setiap negara diharuskan memberikan perlindungan dan dorongan kepada ibu agar berhasil memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya. Dukungan Indonesia untuk Deklarasi Innocenti 1990 tersebut antara lain dengan pencanangan Gerakan Nasional PP-ASI (Peningkatan Penggunaan ASI) oleh Presiden pada tahun 1990.

 

“Kementerian Kesehatan selaku pembuat kebijakan ASI di Indonesia berupaya menjadi contoh dalam penerapan kebijakan tersebut, untuk itu diperlukan partisipasi aktif seluruh pegawai dalam memanfaatkan sarana yang ada sehingga diharapkan pegawai Kementerian Kesehatan menjadi contoh dalam pemberian ASI eksklusif”, pungkasnya.

 

Pemenang lomba Ibu Dengan ASI Ekslusif yang diikuti keluarga besar Kementerian Kesehatan akan diumumkan pada 15 Agustus 2018 mendatang. -(fey)-