Meningkatkan ASI Eksklusif Masih Menjadi Tantangan

Dipublikasikan Pada : Jum'at, 04 Agustus 2017, Dibaca : 635 Kali  

JAKARTA - Pekan Asi Sedunia (PAS) atau World Breastfeeding Week (WBW) diperingati setiap tanggal 1-7 Agustus di banyak negara, termasuk Indonesia. Tahun ini, peringatan PAS memiliki tema “Bekerja Bersama untuk Keberlangsungan Pemberian ASI.” Hal ini bertujuan untuk membangun kepedulian dan kesadaran semua pihak bahwa ASI adalah hak setiap anak.

 

Dalam acara jumpa wartawan yang diselenggarakan di aula Prof. dr. Mahar Mardjono, gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta pada Kamis siang (3/8/2017) kemarin, Dirjen Kesehatan Masyarakat, dr. Anung Sugihantono, M.Kes, mengungkapkan, bahwa untuk meningkatkan  ASI Eksklusif masih menjadi tantangan.

 

“Upaya untuk meningkatkan pencapaian ASI Eksklusif memerlukan kerja sama semua pihak, baik ibu, keluarga, maupun lingkungan,” ucap dr. Anung dihadapan para awak media.

 

Dalam acara tersebut, dr. Anung mengatakan, upaya dalam meningkatkan ASI eksklusif dan makanan pendamping ASI (MPASI) yang benar masih menjadi tantangan. Untuk itu, dalam pekan ASI tahun ini, Kementerian Kesehatan mendorong peningkatan ASI sebagai pemenuhan hak anak dan kewajiban ibu.

 

Lebih lanjut dr. Anung menjelaskan inisiasi menyusui dini, yaitu menyusui sesegera mungkin setelah bayi dilahirkan, persentasenya baru mencapai 51,8 persen. Berdasarkan data dari PSG Kemenkes Tahun 2016 pemberian ASI secara eksklusif kepada bayi baru mencapai 54% dari total keseluruhan. Itu berarti masih banyak bayi yang belum mendapatkan ASI secara eksklusif.

 

Padahal, ASI merupakan nutrisi utama yang bermanfaat bagi tumbuh kembang bayi usia 0-6 bulan. Keberhasilan pemberian ASI eksklusif awalnya ditandai dengan inisiasi menyusui dini (IMD). Sayang angka IMD di Indonesia hanya 51,8%, yang artinya hampir sebagian besar ibu melahirkan tidak melakukan IMD pada bayi yang dilahirkannya.

 

Menurut dr Anung Sugihantono, ada beberapa tantangan yang membuat tidak semua ibu memberikan bayinya ASI eksklusif. Tantangan yang hadapi adalah tidak semua tenaga kesehatan mengerti tentang pentingnya IMD.

 

“Selain itu, berdasarkan data yang ada, 80% ibu menyusui adalah para pekerja. Permasalahannya, tidak semua kantor memiliki ruang ASI untuk ibu memompa dan mengirimkan ASI kepada anaknya. Tantangan lainnya yaitu intervensi di lingkungan melalui iklan atau informasi tentang makanan pengganti ASI," ungkap dr Anung. (fey)