Dirjen Kesmas Ajak Ayah Dukung Ibu Sukses Dalam Menyusui

Dipublikasikan Pada : Jum'at, 02 Agustus 2019, Dibaca : 307 Kali  

JAKARTA— Pekan ASI Sedunia (PAS) setiap tahunnya diperingati pada tanggal 1-7 Agustus. Perayaan ini bertujuan untuk mendorong aktivitas menyusui demi kesehatan bayi di seluruh dunia. Tema Global World Breastfeeding Week tahun 2019 adalah “Empower Parents Enable Breastfeeding”, sedangkan Pekan ASI Sedunia di Indonesia mengangkat tema nasional “Ayah dan Ibu Kunci Keberhasilan Menyusui”, dengan slogan “Ayo dukung Ibu sukses menyusui”. 

 

Pada perayaan PAS tahun ini diharapkan seluruh pihak turut berperan serta dalam upaya pemberdayaan keluarga terutama ayah agar ibu dapat menyusui sesuai rekomendasi Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA). Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, dr.Kirana Pritasari, MQIH dalam sambutannya pada Pekan ASI Sedunia tahun 2019.

 

“Dengan mendukung setiap ibu agar berhasil menyusui akan berkontribusi pada pencegahan stunting, sehingga dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masa depan dukungan ayah pada setiap ibu mampu berkontribusi mendukung setiap ibu mendukung ASI”, ujarnya.

 

Faktor proses menyusui bisa berlangsung dengan lancar adalah dukungan dari keluarga salah satunya Suami, atau Ayah si bayi. Karena suami merupakan orang terdekat istri, sehingga akan lebih tahu proses menyusui yang dilakukan.

 

Sebelum ini, pada kesempatan temu media, pada Jumat (2/8/2019) di gedung Kementrian Kesehatan, Dirjen Kirana, mengajak berbagai pihak untuk membantu upaya peningkatan praktik Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA). PMBA khususnya menyusui. Kata dr.Kirana, praktik PMBA itu harus dilakukan melalui dukungan ayah.

 

Nampak di tengah, Dirjen Kesmas dr.Kirana Pritasari, MQIH ketika melaksanakan temu media di gedung Kemenkes, Jakarta (2/8/2019),

“Dukungan ayah dapat berupa mendengarkan keluh kesah istri selama persalinan, kedua sabar, ketiga ayah mencari informasi tentang menyusui sehingga ketika ada masalah ayah bisa memberikan solusi,” tuturnya.

 

Setelah melahirkan, kondisi fisik istri menurun dan butuh banyak istirahat. Suami diharapkan bisa meringankan pekerjaan rumah tangga lainnya. Bisa ikut mengasuh Bayi, bisa ikut serta dengan menggendong, memandikan, mengajak main dan merawat bayi. Selain itu, Ayah dan ibu bisa saling bercerita tentang perasaannya dan berkomunikasi terkait pola pengasuhan bayi.

 

Selain itu, kata dr.Kirana, pemerintah juga memberikan dukungan kepada ibu menyusui untuk mempertahankan praktik menyusui termasuk pada situasi sulit seperti bencana alam. Pemerintah melakukan perencanaan dan koordinasi pusat dan daerah untuk program PMBA dan ASI, pengaturan pemasaran susu formula sesuai dengan kode internasional dan rekomendasi WHO, serta promosi ASI eksklusif berupa penyuluhan kelompok maupun konseling menyusui melalui kelas ibu menyusui.

 

“Pada situasi bencana, dukungan pemerintah dapat berupa terapi mental pada ibu menyusui korban bencana dan menyediakan tenda menyusui”, terang dr.Kirana.

 

Dihadapan media, Dirjen Kesmas, dr.Kirana, menyebutkan pula, untuk mewujudkan anak yang berkualitas, Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan strategi Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) antara lain merekomendasikan standar emas PMBA yakni melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD), memberikan ASI Eksklusif, memberikan makanan pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI), dan meneruskan pemberian ASI sampai berusia 2 tahun atau lebih. Setelah bayi berusia 6 bulan, ASI saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi, sehingga perlu makanan tambahan (MP-ASI).

 

“Pada usia 6 bulan ASI hanya memenuhi 2/3 dari kecukupan gizi bayi, dan pada usia 9 bulan hanya memenuhi ½ kebutuhan, dan pada usia 1 tahun hanya 1/3 dari kebutuhan,” kata dr. Kirana lagi.

 

Sementara itu, keberhasilan pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain pengetahuan dan keterampilan ibu dan tenaga kesehatan, tersedianya fasilitas menyusui di tempat kerja, komitmen ibu, dukungan ayah, keluarga, masyarakat, serta pengendalian pemasaran susu formula.

 

Menyinggung tetang Pola Asuh Gizi, yaitu cara pemberian makanan yang sesuai dengan kebutuhan anak, dr.Kirana katakan, untuk bayi baru lahir diberikan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Setelah itu dilanjutkan dengan pemberian ASI saja tanpa diberi makanan atau minuman tambahan apapun termasuk air putih (kecuali vitamin dan obat).

 

“Ketika sudah berusia 6 bulan sampai 2 tahun anak tetap diberikan ASI ditambah makanan pendamping ASI. Untuk memastikan bahwa pola asuh gizi yang diberikan sudah benar, maka perlu dilakukan pemantauan pertumbuhan,” tambah Dirjen Kirana lagi.

 

Saat jumpa dengan media itu, Dirjen Kesehatan Masyarakat, Kirana Pritasari, didampingi dr.Wiryani Pambudi, perwakilan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), serta perwakilan dari UNICEF.

 

Dalam kesempatan itu pula, dr.Kirana menjelaskan betapa pentingnya menyusui pada bayi guna mendukung perkembangan optimal dan dapat mencegah stunting.

 

"Kita ingin memutus siklus ini (stunting dan masalah kesehatan lainnya) diawali dengan pemberian ASI setelah bayi lahir. Kita harus berikan ASI eksklusif sampai enam bulan, setelah itu selain ASI harus diberikan makanan pendamping ASI yang berkualitas," ujar dr.Kirana.

 

Dirjen Kirana juga menegaskan bahwa hal menyusui ini perlu diperbaiki karena menyangkut masalah masa depan negara. Anak yang lahir di Indonesia nantinya akan menjadi sumber daya manusia dan jika mereka tidak sehat, akan menjadi masalah bagi negara.

 

"Titik dimulainya pembangunan SDM adalah dengan menjamin kesehatan ibu hamil, kesehatan bayi, kesehatan balita, kesehatan anak usia sekolah. Ini merupakan umur emas untuk mencetak manusia Indonesia unggul ke depan," kata Jokowi dalam pidatonya di Sentul, Bogor pada Minggu (14/7/2019), yang juga prihatin dengan masalah anak Indonesia yang menderita stunting.

 

Sementara itu, dr.Wiryani Pambudi, perwakilan IDAI yang turut mendampingi Dirjen Kesmas, menuturkan, peran ayah kata dia, harus juga ikut mendampingi saat IMD (inisiasi menyusui dini), karena ini merupakan tahap penting yang juga menentukan kelancaran pemberian ASI.

 

“Dukungan ayah dalam enam bulan pertama kehadiran bayi juga sangat penting agar ibu bisa lancar memberikan ASI eksklusif," ujarnya.

 

Selain itu, ayah juga bisa mendukung dengan menyiapkan tempat tidur bayi pada malam hari, membantu mengganti popok dan rajin memijat punggung ibu (pijat oksitosin) untuk membantu melancarkan ASI.

 

Ayah punya peran yang penting dalam mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif, kata Wiiryani. Dukungan ayah berperan membuat ibu rileks dan meningkatkan hormon bahagia yang penting saat menyusui.

 

"Hormon bahagia tersebut berkontribusi memacu hormon prolaktin yaitu hormon pelancar ASI," pungkasnya.

 

Dalam rangkaian Pekan ASI Sedunia tahun 2019 ini, Direktrorat Jenderal Kesehatan Masyarakat  juga melaksanakan serangkaian kegiatan mulai dari Kampanye ASI melalui media sosial, talkshow di media elektronik, hingga Klas Ayah guna mengajar para ayah Indonesia mengerti cara yang tepat untuk mendukung ibu menyusui dan lomba Ibu menyusui  yang dilaksanakan pada Senin (5/8/2019) di aula Siwabessy, gedung Kemenkes, Jakarta. -(fey)-