30 Persen Jumlah Penduduk Kita Adalah Anak Usia Sekolah Yang Beresiko

Dipublikasikan Pada : Jum'at, 18 Agustus 2017, Dibaca : 491 Kali  

Direktur Kesga, dr.Eny Gustina, MPH ketka memberikan sambutan pada acara penganugerahan pemenang LSS Tahun 2017 di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Rabu malam (16/8) lalu

JAKARTA - Direktur Kesehatan Keluarga, Ditjen Kesmas, dr. Eni Gustina, MPH, ketika memberikan sambutannya dihadapan para pemenang Lomba Sekolah Sehat (LSS) Tingkat Nasional tahun 2017, Rabu (16/8) malam lalu, menyebut bahwa 30% jumlah penduduk Indonesia, atau sekitar 70 juta adalah  anak usia sekolah.

 

“Anak usia sekolah dan remaja yang jumlahnya mencapai 30% dari penduduk Indonesia itu menjadi aset generasi penerus yang sangat penting. Namun menurut survey yang pernah dilakukan menunjukkan kondisi kesehatan anak usia SD memiliki faktor risiko terutama terkait gizi dan PHBS”, ungkap dr.Eni.

 

Lebih lanjut dr.Eni paparkan, berdasarkan berbagai hasil riset seperti Riskesdas Tahun 2013, SDKI 2012 dan GSHS 2015 menunjukan kondisi kesehatan anak usia SD memiliki faktor risiko terutama terkait gizi, seperti Stunting sebesar 30%, Kurus sebesar 11,1%, anak Gemuk 18,8%, Anemia sebesar 26,4% (5-14 tahun), Kecacingan sebesar 28,7%, sarapan dengan mutu rendah sebesar 44,6%, kurang makan sayur dan buah sebesar 93.6%.

 

Sementara itu terkait dengan PHBS, tercatat anak yang tidak menggosok gigi minimal 2 kali sehari sebesar 87.5%, makan makanan berpenyedap  sebesar 75%, tidak mencuci tangan pakai sabun sebesar 17.4%, BAB tidak di jamban sebesar 32.8%.

  

Sedangkan pada usia remaja (SMP-SMA) kondisi kesehatan lebih terkait pada gizi, PHBS dan mental emosional. Tercatat anak yg kurus sebesar 9%, Stunting sebesar 33%, anak  Gemuk sebesar 7%, Anemia sebesar 18,4% (15-24 tahun), konsumsi makanan siap saji ≥1 (54.4%), konsumsi soft drink ≥1 sebesar (28%), terpapar rokok (38%), masalah mental emosional remaja seperti merasa orang tua tidak mengerti (65.4%), merasa kesepian dan khawatir (46%), dan lain-lain.

 

Nantinya, kata dr.Eni, pada tahun 2035 anak-anak ini akan menjadi kelompok usia produktif. Sehingga intervensi yang kita lakukan pada mereka sekarang merupakan investasi bagi kita dimasa yang akan datang. “Intervensi kita pada saat ini bisa menjadi pendongkrak tingkat kesejahteraan, kesehatan dan pendidikan Indonesia, namun juga dapat menjadi pemicu masalah bila tidak diintervensi dengan baik sejak mereka masih menjadi anak usia sekolah dan remaja”, ujar dr.Eni menutup sambutannya.

 

Acara penganugerahan pemenang Lomba Sekolah Sehat Tahun 2017 yang berlansung di Hotel Kartika Chandra, Jakarta itu, dihadiri Para Pejabat yang mewakili Kementerian Kesehatan, kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Agama, serta para kepala sekolah pemenang lomba.-(fey)-