Penggunaan Buku KIA di Indonesia menjadi Pembelajaran dari 6 Negara

Dipublikasikan Pada : Rabu, 18 September 2019, Dibaca : 213 Kali  

Manado - Arah pembangunan kesehatan pada RPJMN 2020 – 2024 untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan menuju cakupan kesehatan semesta dengan penekanan pada peningkatan kesehatan ibu, anak, KB dan kesehatan reproduksi; percepatan perbaikan gizi masyarakat; peningkatan pengendalian penyakit; pembudayaan gerakan masyarakat hidup sehat; peningkatan sistem kesehatan dan pengawasan obat dan makanan. Untuk mewujudkan prioritas pembangunan kesehatan tersebut, telah diagendakan Program Indonesia Sehat (PIS) dengan kebijakan operasional diprioritaskan pada Pendekatan Keluarga yang merupakan penguatan Puskesmas, Standar Pelayanan Minimal yaitu kewenangan pemerintah kabupaten/ kota dalam mencapai pelayanan minimal kepada masyarakatnya serta Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yaitu menekankan kepada upaya promotif preventif. Peran Buku KIA dalam mendukung implementasi focus Program Indonesia Sehat tersebut, sangatlah strategis terutama dalam memastikan kesinambungan pelayanan yang diterima oleh ibu dan anak.

 

“Dalam upaya peningkatan cakupan kesehatan semesta khususnya ibu dan anak, Buku KIA berperan penting selain sebagai media pencatatan kesehatan ibu (hamil, bersalin dan nifas) dan anak (bayi baru lahir sampai anak usia 6 tahun) serta sebagai media informasi cara memelihara dan merawat kesehatan ibu dan anak” ungkap drg. Oscar Primadi, MPH ketika memberikan sambutan pada Pembukaan INTERNATIONAL TRAINING PROGRAM The Strengthening of Maternal and Child Health Handbook Implementation in Collaboration with Professional Organizations di Manado (15/9).

 

Dengan penerapan buku KIA, Indonesia berhasil mengintegrasikan layanan KIE, konseling dan pencatatan kesehatan, memungkinkan untuk memastikan kesinambungan pelayanan kesehatan ibu dan anak, Buku KIA dapat digunakan di seluruh tempat pelayanan: di 288.825 Posyandu, 9.993 Puskesmas dan 2.858 Rumah Sakit. Untuk memenuhi ketersediaan, sejak tahun 2012-13 hingga sekarang, pemerintah pusat menyediakan buku KIA untuk sasaran ibu hamil per tahun yaitu sekitar 5 juta buku yang didistribusikan langsung ke seluruh kabupaten/ kota.

 

Indonesia termasuk salah satu negara yang dinilai baik dalam perkembangan pemanfaatan Buku KIA. Karena itu, sejak 2007, Kementerian Kesehatan (Direktorat Kesehatan Keluarga Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat) bekerja sama dengan JICA,  telah mengadakan workshop Third Country Training Program (TCTP) sebanyak 11 kali.

 

TCTP adalah forum berbagai negara untuk mendapatkan pembelajaran dari pelaksanaan pemanfaatan buku KIA di Indonesia sekaligus tempat untuk berbagi informasi tentang pelaksanaan pemanfaatan buku KIA di negara peserta.  Pada tahun 2019 ini, TCTP ke 9  dilaksanakan di Provinsi Sulawesi Utara pada tanggal 15 – 20 September 2019. Kegiatan diikuti oleh 26 peserta yang mewakili 6 negara, yaitu Cambodia, Kenya, Lao PDR, Myanmar, Tajikistan dan Afghanistan termasuk dari Indonesia. 

 

Selama 6 hari ke depan, peserta akan mengunjungi RS. Dr. Kandau Provinsi Sulawesi Utara dan Kabupaten Tomohon untuk mengikuti kegiatan implementasi di lapangan, terutama dalam pemberdayaan masyarakat dalam peningkatan kesehatan ibu dan anak.

 

Melalui kegiatanTCTP ini, juga diharapkan dapat lebih memotivasi pemerintah daerah, menemukan hal inovatif dalam implementasi Buku KIA untuk meningkatkan  kualitas layanan KIA di Indonesia. (hs)