Di Kabupaten Pakpak Bharat, Sudah Separuh Lebih Warga melahirkan Di Puskesmas

Dipublikasikan Pada : Kamis, 29 September 2016, Dibaca : 1108 Kali  

Gambar ilustrasi@google

JAKARTA-- Di Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatera Utara, saat ini angka melahirkan di puskesmas sudah mencapai 60 persen, berarti sudah separuhnya melahirkan di fasilitas pelayanan pemerintah yang tersedia di sana.  Semula Dukun beranak jadi andalan warga di masa lalu saat hendak melahirkan. Tapi demi keselamatan ibu dan anak, lebih separuh warga sudah banyak yang mau melibatkan tenaga kesehatan.

Besaran yang patut diapresiasi karena sebelumnya, kebanyakan warga masih enggan melahirkan di puskesmas.

Tentang hal ini, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pakpak Bharat, dr Tomas, seperti yang dilansir Detik.com, Kamis, (29/9), saat temu media di kawasan Gandaria City Mall, Jl Sultan Iskandar Muda, Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan, Rabu (28/9/2016), menjelaskan, “Sekarang di sana ada 8 puskesmas. Bidan juga disebar ke 52 desa. Ada 1-3 bidan di satu desa”, kata  dr.Tomas.

Upaya jemput bola pun dilakukan, jadi ketika ada ibu yang hendak melahirkan dijemput untuk dibawa ke puskesmas. Awalnya banyak yang menolak. Namun dengan pemberian pemahaman dan peningkatan fasilitas di puskesmas, perlahan-lahan warga dengan sukarela datang ke puskesmas tanpa dijemput.

“Tadinya nggak peduli dengan kesterilan, lebih nyaman di rumah kalau mau melahirkan, tapi kami juga terus memperbaiki”, imbuh dr Tomas.

Angka kematian ibu di Kabupaten Pakpak Bharat tahun lalu ada 2. Sementara angka kematian bayi kurang dari 9 anak. Kasus gizi buruk masih ditemukan, di tahun lalu hanya 5 anak yang mengalami gizi buruk.

Upaya lainnya, Posyandu Mandiri Siap Beri Layanan Konsultasi Via SMS Program, dan satu sepeda motor bagi satu bidan juga dijalankan. Ini diharapkan jadi solusi masalah sulitnya sarana transportasi di daerah. Hal itu dikarenakan kondisi geografis yang berupa perbukitan dan lembah sehingga jadi faktor penghambat akses pelayanan kesehatan.

“Ada pemantauan jumlah ibu hamil, sehingga bisa mengetahui mana ibu hamil yang berisiko tinggi dan yang berisiko rendah. Ada petanya. Juga kantong persalinan berisi data perkiraan lahir para ibu hamil”,  jelas dr Tomas lagi.

Terkait tenaga dokter, diakui dr Tomas, untuk spesialis memang masih sangat sulit. Karena itu dibuat kontrak dengan dokter spesialis, dengan memberi insentif Rp 25-30 juta. -(fey)-