Bergerak Bersama Secara Global untuk Wujudkan Lingkungan Sehat

Dipublikasikan Pada : Kamis, 03 Oktober 2019, Dibaca : 169 Kali  

Jakarta - Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI dr. Kirana Pritasari, MQIH menghadiri Peringatan Hari Kesehatan Lingkungan Sedunia Tahun 2019 di Auditorium Siwabessy, Kemenkes RI, Rabu (2/10). Tema yang diusung kali ini adalah ”Tantangan Perubahan Iklim, Saatnya Kesehatan Ligkungan  Bergerak Bersama Secara Global”,  serta sub tema ”Aksi Adaptasi Perubahan Iklim Dalam Upaya Mewujudkan Lingkungan Sehat.

 

Acara yang dihadiri kurang lebih 400 peserta dari lintas program dan sektor, pemerintah daerah, perguruan tinggi, rumah sakit, puskesmas, mitra, organisasi profesi dan organisasi non pemerintah terkait.

 

“Kami harap perserta yang saat ini mewakili provinsi dan kabupaten/kota, menjadi agent untuk memulai mengadopsi kebijakan tersebut menjadi kebijakan daerah dan bisa diaplikasikan oleh petugas kesehatan lintas sektor & mitra prmbangunan yg lain,” kata Dirjen Kirana

 

Lebih lanjut dr. Kirana menjelaskan bahwa perubahan iklim merupakan tantangan terbesar di abad 21, yang berimplikasi pada determinan kesehatan yaitu sosial dan lingkungan, yang berkontribusi dalam menurunkan derajat kesehatan manusia. Menurunnya kualitas lingkungan akibat perubahan iklim mengakibatkan potensi lingkungan menjadi media penularan penyakit. Menurut WHO (2019), perubahan iklim akan mengakibatkan penambahan sekitar 250.000 kematian per tahun antara tahun 2030 dan 2050. Penambahan jumlah kematian ini terutama disebabkan oleh malaria, diare, pajanan suhu panas, dan kekurangan gizi. Sedangkan kerugian ekonomi  yang disebabkan perubahan iklim terhadap kesehatan diperkirakan U$ 2-4 milyar/tahun pada tahun 2030.

 

Kesehatan Lingkungan memegang peran penting dalam upaya pencegahan penyakit dan/atau gangguan kesehatan dari faktor risiko lingkungan. Berbagai fenomena yang dapat mempengaruhi kesehatan lingkungan antara lain dinamika penduduk, keanekaragaman sosial budaya, industrialisasi dan transportasi. Secara global sampah menjadi isu yang sangat serius karena berdampak terhadap perubahan iklim. Di Indonesia, jumlah timbunan sampah  sekitar 65,8 juta ton setiap tahunnya dan 15% terdiri dari sampah plastik, serta 15-30% sampah berlum terkelola sehingga mencemari lingkungan, sungai, danau, pantai dan laut.

 

Untuk menghadapi tantangan tersebut, beberapa upaya  adaptasi yang telah dilakukan antara lain: (1) Advokasi dan sosialisasi strategi adaptasi perubahan iklim  (2) Peningkatan kapasitas, (3) Pedoman adaptasi  perubahan iklim berbasis masyarakat terhadap demam berdarah dengue dan malaria, (4) draft RAN APIK (HNAP- Health National Action Plan), (5) Sistem Pemetaan Kerentanan Berbasis Website dan (6) Draft Pedoman Desa/Kelurahan Sehat Iklim.

 

Upaya tersebut merupakan implementasi dari Permenkes no. 1018 tahun 2011 tentang Strategi Adaptasi Sektor Kesehatan terhadap Dampak Perubahan Iklim dan  Permenkes no. 035 tahun 2012 tentang Pedoman Identifikasi Risiko Kesehatan Akibat Perubahan Iklim serta Peraturan Pemerintah no. 66 tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan.

 

Hari Kesling Sedunia merupakan upaya mengingatkan kita semua agar menyadari peran kesehatan lingkungan yang cukup besar dalam mewujudkan lingkungan yang sehat sebagai salah satu faktor untuk mewujudkan masyarakat yang sehat, melalui Germas, PHBS, program Adaptasi Perubahan Iklim Bidang Kesehatan, Kabupaten/Kota Sehat, Sekolah Sehat, Kantor Sehat dan Hijau, Pelabuhan Sehat, Kantin Sehat dan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dll.

 

Dalam rangkaian peringatan Hari Kesehatan Lingkungan Sedunia,  Kemenkes memberikan apresiasi dengan penghargaan kepada pemenang lomba fotografi, foto dan logo pangan serta meluncurkan Aksi Adaptasi Perubahan Iklim Bidang Kesehatan dan Pemberian Penghargaan STBM Award baik kepada Kab/Kota ODF dan yang telah mempertahankan STBM berkelanjutan serta kepada Sanitarian atau Petugas Kesehatan Lingkungan terbaik dalam mempertahankan dan inovasi STBM berkelanjutan. (bgs)