Kebijakan Kemenkes Dalam Memberi Bantuan Susu Formula Kepada Korban Gempa Donggala

Dipublikasikan Pada : Selasa, 16 Oktober 2018, Dibaca : 74 Kali  

JAKARTA--Pemberian susu formula bayi pada situasi darurat dan bencana lainnya tidak boleh sembarangan karena terbatasnya sarana untuk menyiapkannya, seperti air bersih, alat masak, botol steril, dan lainnya ditempat pengungsian. UNICEF (Badan Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahaya pemberian susu formula di pengungsian yang disajikan tak sesuai prosedur dapat berdampak diare pada bayi.

foto Detak-c0

Seperti yang dilansir berita-Antara, kasus di Bantul Yogyakarta, setelah mengalami gempa bumi menunjukkan kalau 25 persen anak di bawah usia 2 tahun terkena diare karena meminum susu formula. Karena itu, sebaiknya jangan asal memberi bantuan susu formula dan susu bubuk tanpa persetujuan dari Dinas Kesehatan Provinsi atau kabupaten, atau kota setempat.

 

Kementerian Kesehatan memiliki kebijakan dalam menerima pemberian bantuan susu formula bagi anak korban bencana gempa dan Tsunami di Palu dan Doaggala. Hal ini ditegaskan dalam surat Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, dr. Kirana Pritasari, MQIH yang ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, sehubungan dengan bantuan susu formula dari berbagai pihak sebagai wujud kepedulian dan rasa simpati terhadap korban gempa.

 

Ada delapan butir kebijakan Kemenkes yang disebutkan dalam surat pemberitahuan itu, diantaranya :

 

1). petugas di lapangan harus melindungi, mempromosikan dan mendukung ibu agar tetap menyusui.

 

2).Semua donasi yang berupa pengganti ASl, botol, dan dot harus ditempatkan di bawah pengawasan dan pemantauan Dinas Kesehatan Provinsi/Kab/Kota setempat.

 

3).Pemberian susu formula harus dengan pengawasan petugas kesehatan dengan penjelasan cara penyiapan dan pemberian yang baik dan benar.

 

4).Pemberian susu formula harus disertai air minum dalam kemasan (AMDK) karena tidak tersedia air bersih dan bahan bakar untuk memasak.

 

5).Pemberian susu formula menggunakan cangkir atau gelas karena mudah dibersihkan. Botol dan dot tidak dianiurkan karena sulit dibersihkan dan mudah terkontaminasi.

 

6).Pemberian susu formula pada bayi dan anak dibawah 24 bulan bersifat sementara sampai ibu bisa menyusui kembali kecuali bayi piatu, bayi yang sejak lahir tidak diberi ASI dan ibu sakit berat.

 

7).Susu formula dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan makanan padat gizi seperti kue basah atau puding terutama diberikan kepada balita,ibu hamil dan lansia.

 

8).Bantuan susu formula sekurang-kurangnya mempunyai masa kadaluwarsa 1tahun lagi, terhitung sejak tanggal didistribusikan.

 

Dalam surat itu pula menyebut agar Dinas Kesehatan Prrovinsi Sulawesi Tengah dapat menyebarluaskan kebijakan Kemenkes itu kepada para petugas kesehatan, mitra pemerintahan, lembaga donor, lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat luas.—(Humas).