Alokasi BOK dan Jampersal Untuk Memperkuat Promotif Preventif

Dipublikasikan Pada : Selasa, 29 Oktober 2019, Dibaca : 92 Kali  

Bekasi - Direktur Jenderal Kesmas dr. Kirana Pritasari, MQIH membuka Pertemuan Evaluasi Pemanfaatan BOK dan Jampersal di Daerah Tahun 2019 di Hotel Horison Bekasi (28/10). Pertemuan di hadiri oleh seluruh Direktorat Pusat, 34 kabid Kesmas se Indonesia, pengelola BOK dan Jampersal dari 100 Dinas Kesehatan Kab/Kota serta Pengelola BOK dan Jampersal dari 100 Puskesmas.

 

Saat ini, cukup banyak dana yang di kedaerahkan, termasuk Dana Alokasi Khusus, baik fisik maupun non fisik (BOK dan Jampersal). Pemanfaatan DAK Non Fisik dalam 3 tahun terakhir ini tidak menunjukkan kinerja yang baik, banyak sekali dana yang tidak terserap baik di tingkat Puskesmas, kabupaten/kota maupun provinsi. Pemanfaatan BOK dan Jampersal pada semester 1 tahun 2019 juga masih rendah, realisasinya tidak ada yang melebihi 50%.

 

Berdasarkan hasil kajian  tahun 2014 oleh Ditjen Kesmas dengan Badan Litbangkes, terdapat hubungan yang positif dalam peningkatan cakupan beberapa indicator program dengan realisasi BOK. Kemudian kajian Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan dengan Badan Litbangkes tahun 2017, realisasi anggaran BOK Puskesmas adalah untuk upaya kesehatan ibu, promosi kesehatan, anak balita dan prasekolah, dan imunisasi.

 

"Saya harapkan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat membina Puskesmas dalam perencanaan, penggerakan dan pelaksanaan,  pengawasan pengendalian dan penilaian program. Sehingga kegiatan kegiatan yang didanai BOK betul betul merupakan kegiatan prioritas sesuai permasalahan yang ada" ujar dr. Kirana.

 

Pendekatan program kesehatan masyarakat bersifat holistik, integratif, tematik dan spasial. Holistik karena determinan masalah kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh berbagai factor sehinggaintervensinya  pun harus menyeluruh dan terintegrasi dengan program dan sector lainnya. Dengan banyaknya masalah kesehatan, perlu ditentukan masalah prioritas dan dimana masalah tersebut banyak terjadi untuk diintervensi, inilah yang dimaksud dengan tematik dan spasial. Pendekatan ini harus menjadi pedoman bapak/ibu pengelola BOK dan Jampersal dalam merencanakan kegiatan program kesehatan masyarakat. Jangan lupa untuk berkoordinasi dengan pengelola program sehingga kegiatan yang direncanakan benar-benar selaras dengan prioritas daerah dan nasional serta tidak bersifat “business as usual”.

 

Mengakhiri sambutannya, Dirjen Kesmas berharap Dinas Kesehatan Provinsi/Kab/Kota dan Puskesmas :

  1. Tidak menjadikan dana BOK dan Jampersal sebagai dana utama, namun dana bantuan dan dukungan untuk kegiatan promotif dan preventif.
  2. Lakukan optimalisasi kegiatan dalam sisa waktu 1,5- 2 bulan yang berdaya ungkit tinggi untuk capaian program dan penyerapan  tahun 2019 ini.
  3. Laksanakan monitoring dan evaluasi secara berjenjang, mulai dari Provinsi kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sampai Puskesmas, fokus pada tata kelola BOK sesuai  prinsip good  governance, yakni transparan, efektif, efisien, akuntabel dan tidak duplikasi dengan sumber pembiayaan lain.
  4. Identifikasi hambatan dan opsi solusi yang dapat diberikan, agar tidak ada penumpukan kegiatan di akhir tahun, tidak ada revisi anggaran sehingga realisasi optimal dan capaian program maksimal
  5. Jadikan hasil monitoring dan evaluasi untuk pembelajaran masukan perencanaan,  sehingga kegiatan tepat sasaran, tepat manfaat.