Dengan Germas, Ongkos Berobat Masyarakat Bisa Berkurang

Dipublikasikan Pada : Rabu, 28 Desember 2016, Dibaca : 1077 Kali  

BOGOR--Dalam 30 tahun ini, Indonesia sedang mengalami perubahan pola penyakit atau yang sering disebut transisi epidemiologi, ujar Kepala Subdit, Advokasi dan Kemitraan, Dit.Promosi Kesehatan, Ditjen Kesmas, Sakri Sab’atmaja, SKM, Msi, dihadapan peserta Rapat Koordinasi Kelurahan Siaga Aktif dalam rangka sosialisasi Gerakan Masayakarat Hidup Sehar (Germas) dan PHBS sekota Bogor, yang berlangsung pada hari Selasa (27/12) kemarin.

Kasubdit, Advokasi dan Kemitraan, Sakri Sab’atmaja, SKM, ketika memaparkan Gremas dihadapan peserta Rapat Koordinasi Kelurahan Siaga Aktif Sekota Bogor

Lebih lanjut ia paparkan, pada Era tahun 90-an, penyebab kematian dan kesakitan terbesar  adalah penyakit menular seperti Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), TBC, Diare, dan lain-lain. Namun sejak tahun 2010, penyebab kesakitan dan kematian terbesar adalah Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti strooke, jantung dan kencing manis.

“PTM sekarang dapat menyerang bukan hanya usia tua tapi telah bergeser ke usia muda, dan dari semua kalangan kaya atau miskin serta tinggal di kota maupun di desa”, ujar Sakri.

“Kita harus bersamam-sama mencegah faktor-faktor risiko PTM, dengan cara  melakukan suatu kegiatan pencegahan yang melibatkan seluruh masyarakat Indonesia melalui Germas, dengan tanpa membedakan usia, jenis pekerjaan, status sosial, ekonomi dan lokasi tempat  tinggal”, tegasnya lagi.

Lebih jauh ia sampaikan, Germas adalah suatu tindakan yang sistematis dan terencana, dilakukan secara bersama oleh seluruh komponen bnga dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperiaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Tujuan Germas , agar masyarakat bisa berperilaku sehat, sehingga diharapkan berdampak pada kesehatan yang terjaga.

“Jika sehat, produktivitas masyarakat akan meningkat, tercipta lingkungan bersih, dan yang lebih penting biaya yang dikeluarkan masyarakat untuk berobat menjadi berkurang”, pungkasnya.

Dalam rapat koordinasi yang berlangsung di aula Kemuning Gading, Balai Kota Bogor tersebut, sekaligus diluncurkan Gerakan Masyarakat (Germas) Hidup Sehat Tingkat Kota Bogor, yang diikuti 68 Ketua Forum Masyarakat Kelurahan dan enam perwakilan Kecamatan, serta dihadiri pula para Camat, Lurah, Kepala Puskesmas dan kader kesehatan serta pihak swasta terkait sekota Bogor.

Ratna Yunita, Kepala Bidang Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat. Kota Bogor

Pada kesempatan itu, Dinas Kesehatan Kota Bogor mengevaluasi  program kesadaran dan kemandirian masyarakat dalam membangun Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Menurut Ratna Yunita, Kepala Bidang Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat, rapat koordinasi ini juga menentukan kegiatan yang harus dilakukan bersama.  Sebab  hasil evaluasi menunjukan,  masih banyak warga yang beranggapan masalah kesehatan sebagai urusan pemerintah. Akibatnya mereka tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang  mendukung pola hidup sehat.

Contohnya, masih banyak masyarakat yang merokok dan membuang sampah sembarangan, juga masih saja ada warga yang BAB tidak di jamban. “Padahal masalah kesehatan murni merupakan urusan masyarakat dan pemerintah hanya menyiapkan sarana dan prasarananya,” kata Ratna.

Itu sebabnya di 2017 Dinkes akan fokus memperdayakan kelurahan melalui  Kelurahan Siaga Aktif.  Program ini untuk membangun kesadaran masyarakat  agar selalu membicarakan masalah kesehatan secara bersama-sama dan melibatkan kelurahan dan RT. Dinkes juga akan melibatkan lintas sektor seperti organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi dan organisasi wanita .

Ratna berharap, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (germas), diharapkan dapat menyadarkan masyarakat tentang kesehatan. Melalui Germas,  masyarakat bisa mandiri dan menjadi agen perubahan di wilayahnya masing-masing. -(fey)-