Loading...

40 Hektar untuk Health Tourism


40lahanIndonesia kaya akan tanaman obat herbal. Pengembangan obat herbal di negeri ini semakin pesat seiring dengan dirancangnya payung hukum bagi penggunaannya di fasilitas pelayanan kesehatan.  Saat ini tengah disusun Pedoman Pelayanan Medik dengan Menggunakan Obat Herbal di Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes)  dan Pedoman Integrasi Pelayanan Alternatif-Komplementer di Fasyankes. Kini, beberapa fasilitas pelayanan kesehatan mulai menunjukkan keseriusan untuk mengembangkan pelayanan tersebut di unit masing-masing, salah satunya sebuah rumah sakit jiwa di Kota Magelang.

Hasil Monitoring dan Evaluasi (Monev) Subdit Bina Pelayanan Kesehatan Alternatif-Komplementer per Maret 2013 memperlihatkan sejumlah rumah sakit yang mengembangkan pelayanan ini. Sebut saja RSJ Prof. Dr. Soerojo di Kota Magelang, Jawa Tengah. Rumah sakit  yang merupakan vertikal Kementerian Kesehatan ini adalah rumah sakit khusus jiwa.Namun saat ini RS tersebut telah membuka layanan 25% di luar kekhususan (psikiatri) dan memiliki 4 pelayanan spesialistik dasar yang telah melayani 15% di luar psikiatri.

Saat menyambangi RSJ Prof. Dr. Soerojo, tim kami langsung disambut olehdr. Eniarti, M.Sc., Sp.KJselaku Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan, dr. Asih Widowati, MARS (Kabid Medik), Sucipto, SE, MM (Kepala Bagian Administrasi Umum), danFitria Kusumasari W., SP (Staf Rumah Tangga Bagian Perencanaan Lahan Pertanian).

Sejumlah tenaga kesehatan di RSJ tersebut ternyataada yang sudah dilatih akupunktur. Namun belum ada poliklinik khusus akupunktur karena belum ada tenaga lulusan dari pelatihan akupunktur yang diselenggarakan oleh Kolegium Akupunktur Indonesia (KAI) yang diakui IDI. Sebagian besar melakukan pelatihan akupunktur pada berbagai institusi yang ada di sekitar wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk itulah dr. Eni bermaksudmengikutsertakan stafnya dalam Pelatihan Akupunktur Medik Dasar yang akan diselenggarakan oleh Kemenkes beberapa bulan mendatang.

Selain minat dalam bidang akupunktur, RSJ Prof. Dr. Soerojo juga tertarik untuk mengembangkan herbal. Adanya lahan seluas hampir 40 hektar yang terbentang di sisi belakang rumah sakit merupakan aset yang potensial untuk dikembangkan.Kami pun diberi kesempatan untuk berkeliling melihat lahan tersebut. Dalam diskusi, dr. Eniarti, M.Sc.,Sp.KJ memaparkan rencana dankonsep pengembangan lahan tersebut menjadi Lahan Terapi, Edukasi dengan Rekreasi yang mendukung pengembanganHealth Tourism.Disainnya pun telah dirancang.Rencananya lahan tersebut akan dijadikan taman buah yang berfungsi sebagai Garden Therapy sekaligus etalase tanaman herbal.

Di samping rencana membangun sebuah area taman yang dapat memberi suasana kondusif bagi pasien dan pengunjung. Lahan tersebut juga akan ditanami dengan sayur-mayur, tanaman obat herbal dan dibuat sebuah kolam pemancingan ikan agar hasilnya dapat dinikmati oleh penghuni RS. Untuk menunjukkan keseriusan dalam pengembangan lahan ini, pihak rumah sakit bahkan merekrutsarjana pertanian untuk menjadistaf rumah tangga Bagian Perencanaan Lahan Pertanian yang khusus menangani proyek ini.

Untuk pengembangan herbal, pada tahun 2013, RSJ ini pun membuat MOU dengan Balai Besar Obat Tradisional di Tawangmangu dan 2 orang dokter sudah dikirim mengikuti pelatihan Saintifikasi Jamu. Selain bekerja sama dengan Balai Besar Tawangmangu, RSJ Prof. Dr. Soerojo juga bekerja sama dengan Dinas Pertanian yang memang lebih berkompeten dalam bidang ini.Dalam hal pengembangan herbal tersebut, bahkan sudah ada pembicaraan dengan PT Sido Muncul, di mana perusahaan obat ini bersedia membeli hasil tanaman obat yaitu jahe dan temulawak yang ditanam di lahan RS.

Selain itu direncanakan pula sebuah kawasan outbond yang bisa dinikmati sebagai tempat rekreasi. Kawasan seluas ini tentu memerlukan pengelolaan yang serius dan tenaga yang tidak sedikit. Guna mengatasi hal tersebut, pihak rumah sakit berencana memberdayakan rehabilitan yang telah sembuh dari RS untuk mengelola lahan tersebut karena seringkali rehabilitan sulit untuk menyesuaikan diri agar diterima kembali dalam keluarga.RSJ prof. Dr. Soerojo juga memiliki prestasi terkait dengan rehabilitan, yakni memperoleh (MURI) atas rekor “Pemrakarsa dan Penyelenggara Membatik dengan Peserta Rehabilitan terbanyak, 364 orang pada bulan November 2012.

Setelahpuas menyusuri lahan seluas 40 hektar, kami pun berkunjung ke poli unggulan RSJProf. Dr. Soerojo yaitu Instalasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja (Ikeswar) dan berdiskusi dengan Konsultan Senior yaitu Prof. dr. Edith Humris, Sp.KJ (K).Hasil diskusi dengan Prof. Edith diperoleh beberapa masukan mengenai pemanfaatan herbal,akupunktur dan hipnoterapi dalam penatalaksanaan berbagai gangguan jiwa. Salah satunya adalah manfaat akupunktur padaAttention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau anak yang hiperaktif dan gangguan konsentrasi.Prof Edith lalu menjelaskan harapan/mimpi beliau agar RSJ Prof. Dr. Soerojo menjadi centrum pendidikan dan pelayanan Psikiatri untuk Anak dan Remaja. Bahkan, bukan tidak mungkin di masa yang akan datang, RSJ Prof. Dr. Soerojo dapat menjadi salah satu pusat Health Tourism di Indonesia. (Dina,Alkomp)