Loading...

Kurikulum Kesehatan Tradisional Pada Pendidikan Dokter


[caption id="attachment_9076" align="alignleft" width="300"]Wamen mengawali penandatangan Delegasi didampingin Direktur Bina Yankes Tradkom Wamen mengawali penandatanganan Deklarasi Padang[/caption]

 Pendidikan merupakan salah satu faktor penting yang berperan dalam mewujudkan penyelenggaraan pelayanan kesehatan termasuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan tradisional yang aman, efektif dan bermutu. Untuk mewujudkan hal tersebut, telah diawali pertemuan dengan para Dekan Fakultas Kedokteran, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dan organisasi profesi Ikatan Dokter Indonesia pada tanggal 5-7 Desember 2012. Pertemuan tersebut melahirkan kesepakatan bahwa Dekan Fakultas Kedokteran sepakat mendukung peningkatan kualitas calon dokter melalui pendidikan untuk memahami filosofi dasar pengobatan tradisional asli Indonesia serta mendukung penyelenggaraan penelitian kearifan lokal ataupun metoda pengobatan untuk dapat dibuktikan secara ilmiah sebagai pengayaan dalam kurikulum pendidikan dokter. Ikatan Dokter Indonesia turut mendukung kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas dokter dalam pelayanan kesehatan komprehensif termasuk pelayanan kesehatan tradisional melalui pembekalan dan pelatihan di bidang pelayanan kesehatan tradisional, alternatif dan komplementer sehingga dapat menggunakan produk dan metode yang terbukti aman dan bermanfaat.

Tindak lanjut pertemuan tersebut, pada tanggal 5 Oktober 2013 bertempat di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang, Wakil Menteri Kesehatan – Bapak Prof.dr.Ali Gufron, MSc. PHd  telah membuka Lokakarya Penerapan Model Kurikulum Kesehatan Tradisional pada Pendidikan Dokter. Wamen menguraikan lima alasan penting untuk mengangkat kesehatan tradisional sebagai bagian penting dalam  upaya kesehatan di tanah air. Mulai dari kekayaan hayati tanaman obat Indonesia yang cukup berlimpah, pergeseran pola hidup masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia menuju paradigma back to nature dengan menggunakan pengobatan tradisional, deklarasi jamu sebagai Brand of Indonesia dan diamanatkan untuk dilayankan di fasilitas kesehatan oleh Bapak Presiden, pengelolaan kesehatan tradisional yang baik mempunyai potensi yang cukup besar dalam upaya mensejahterakan rakyat dan terakhir bahwa kewajiban negara untuk memenuhi mandat pasal 28 huruf H UUD 1945 yang mengamanatkan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pelayanan kesehatan untuk mencapai derajat kesehatan setinggi-tingginya.

Lokakarya yang di motori oleh Direktorat Bina Yankes Tradisional Alternatif dan Komplementer bertujuan untuk memperoleh Model Kurikulum Pendidikan Kesehatan Tradisional dalam Pendidikan Kedokteran sebagai Upaya Pengembangan Pelayanan Kesehatan Integratif. Dengan adanya kurikulum pendidikan kesehatan tradisional dalam pendidikan kedokteran diharapkan adanya pemahaman menyeluruh para mahasiswa kedokteran tentang ilmu pengobatan tradisional sebagai bentuk lain dari sistim pengobatan konvensional. Pengobatan tradisional berperan pada peningkatan sisi sehat tubuh melalui kegiatan promotif dan preventif sedangkan pengobatan konvensional berperan dalam tindakan kuratif dan rehabilitatif bagian yang sakit dari tubuh kita.

Berdasarkan Sermeus Report menunjukkan rata-rata 30% populasi masyarakat di beberapa negara maju telah memanfaatkan berbagai jenis pengobatan tradisional sebagai pelayanan alternatif dan komplementer.

Hal lain yang menjadi prioritas adalah pene­rapan integrasi pelayanan kese­hatan tradisional pada fasilitas pelayanan kesehatan di Puskes­mas dan Rumah Sakit. Inte­grasi pelayanan kesehatan tradisional ke sistem pela­yanan kesehatan nasional sudah disepakati oleh WHO bahkan negara-negara ASEAN. Bahkan ASEAN  sudah memiliki Roadmap Traditional Medicine 2012-2025 yang intinya meru­pakan tekad opera­sional ASEAN membangun pe­la­ya­nan kesehatan tradisional.

Dalam penerapannya, pe­ngobatan tradisional harus di­atur agar pengintegrasian pela­yanan kesehatan tradi­sional berjalan sinergi dengan pela­yanan kesehatan konven­sional. Pengobatan tradisional yang terbukti secara il­miah aman dan bermanfaat dapat dikom­binasi­kan dengan pengobatan konven­sional se­ba­gai pelengkap (kom­ple­men­ter), atau sebagai  peng­ganti (alternatif) bila terapi kon­vensional tidak bisa diberikan.

Wamenkes juga meminta Fakultas Ke­dok­teran di Indonesia meng­ambil peran dengan mema­sukkan mata kuliah pengo­batan tra­disional dalam ku­riku­lum pen­didikan dokter. Dengan demikian, para dokter memaha­mi landasan filosofis kesehatan tradisional, khusus­nya pada mata kuliah ilmu biomedis dan prinsip kon­sep pengobatan kesehatan tra­disional, alternatif dan kom­ple­menter, jenis metoda pe­ngo­batan, obat tradisional, tata cara pengobatan, keamanan serta manfaat pengobatan tradisional.

Tujuan penerapan kurikulum ini adalah untuk pelestarian dan pengembangan warisan budaya bangsa, mengetahui perkembangan kebutuhan pengobatan tradisional di masyarakat sehingga mampu menjawab kebutuhan tersebut, sebagai pembekalan agar dokter mampu bersaing dalam menghadapi masuknya pengobatan alternatif dan komplementer asing, membangun kesepahaman dan komunikasi dalam ilmu pengobatant tradisional dan agar dokter dapat memberikan pandangan dan nasihat tentang kesehatan tradisional kepada pasiennya. Sehingga para dokter memiliki kompetensi yang memadai untuk melakukan tugas klinisnya dalam pengobatan konvensional maupun pengobatan tradisional.

Selain itu, Wamenkes juga  mengharapkan agar FK memfasilitasi pendidikan tinggi untuk pengobat tradisional, alternatif dan kom­plementer serta mem­fasilitasi pene­litian pengo­batan tradisional alternatif dan komplementer di Pergu­ruan Tinggi.

Di luar negeri, beberapa universitas maupun sekolah tinggi telah memasukkan kurikulum kesehatan tradisional dan alternatif dan komplementer ke dalam kurikulum pendidikan kesehatan konvensional. Para lulusannya juga telah diakui dan disertifikasi oleh lembaga yang berwenang seperti terlihat pada gambar berikut. Untuk penerapan kurikulum kesehatan tradisional di pendidikan kedokteran, Indonesia bisa mempelajari pengalaman negara-negara tersebut untuk diterapkan sesuai kondisi negara Indonesia.

Pada kegiatan lokakarya tersebut juga dibarengi dengan kegiatan kunjungan lapangan ke Kebun Toga Universitas Andalas dan penandatanganan deklarasi oleh para  Dekan Fakultas Kedokteran, Ketua Dewan Riset Nasional, Ketua Pokjanas, Balitbangkes, Dit. Yankes Tradkom dan kalangan akademisi.

Akhir acara, diperoleh kesepakatan alasan/pertimbangan perlunya materi pendidikan kesehatan tradisional dalam kurikulum pendidikan dokter yaitu untuk melaksanakan amanat UUD 1945, UU No.36 tentang Kesehatan, menghargai upaya kesehatan alternatif dan komplementer yang berkembang di masyarakat multikultur seperti yang termaktub dalam Standar Kompetensi Dokter Indonesia, minat masyarakat yang cukup tinggi terhadap pengobatan tradisional alternatif dan komplementer serta telah terbentuknya body of knowledge pengobatan tradisional Indonesia.

Model pembelajaran yang disepakati oleh para dekan adalah bahwa pendidikan kesehatan tradisional dimasukkan dalam blok mata kuliah yang sudah ada dengan tingkat capaian pembelajaran pada tingkat pemahaman//must to know. Materi yang akan diajarkan yaitu filosofi dan teori dasar ilmu kesehatan tradisional, serta pemahaman berbagai modalitas yang sudah dapat diintegrasikan dalam sistem kesehatan konvensional

Tindak lanjut dari lokakarya yaitu tiap delegasi Fakultas Kedokteran akan menyampaikan hasil lokakarya ini pada Forum Dekan untuk ditindaklajuti, Kementerian Kesehatan dan Asosiasi Ilmu Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) akan melakukan kerjasama untuk menindaklanjuti model pembelajaran serta penyiapan SDM melalui workshop atau TOT.