Loading...

Aksi Bergizi, Menjadi Upaya Cegah Stunting dan Implementasi Transformasi Layanan Primer


 

Salah satu masalah kesehatan di Indonesia yang dapat dialami oleh semua kelompok umur mulai dari balita, remaja, ibu hamil sampai usia lanjut adalah Anemia atau kurangnya sel darah merah dalam tubuh. Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi anemia pada anak usia 5-14 tahun sebesar 26,8 dan pada usia 15-24 tahun sebesar 32%. Hal ini berarti sekitar 3 dari 10 anak di Indonesia menderita anemia.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi hal tersebut, salah satunya melalui suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) khususnya bagi remaja putri.

Sejalan dengan upaya tersebut, pada Kamis (21/7) dilaksanakan aktivasi kegiatan #AksiBergizi yang diawali secara serentak di 4 sekolah terpilih di wilayah Kabupaten Bogor, antara lain di SMAN 1 Cibinong dengan penerima sekitar 630 siswi, SMPN 1 Cibinong sebanyak 640 siswi, SMAN 2 Cibinong sekitar 600 siswa, dan SMKN 1 Cibinong sekitar 500 siswa.

Aksi Bergizi dilaksanakan dengan tiga intervensi utama, yaitu (1) Sarapan dan Minum TTD bersama di sekolah/madrasah setiap minggu; (2) Edukasi gizi yang bersifat multi-sektor dengan tujuan mempromosikan asupan makan yang sehat dan aktivitas fisik; serta (3) Komunikasi untuk perubahan perilaku yang relevan dan komprehensif. 

Gerakan #AksiBergizi juga akan dilaksanakan secara serentak di 12 provinsi prioritas (Aceh, Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, NTB, NTT, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat). 

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, lebih lanjut Menkes menyampaikan pemberian TTD merupakan upaya pencegahan atau preventif. Hal ini menjadi salah satu fokus utama dalam transformasi kesehatan yang dicanangkan Kementerian Kesehatan.

Kementerian Kesehatan akan berfokus pada upaya promotif dan preventif. Khususnya transformasi pada layanan primer yang tujuannya adalah untuk menciptakan orang yang sehat dengan menggerakkan langkah-langkah preventif. 

Dikatakan Menkes, jumlah ibu melahirkan yang meninggal setiap tahun mencapai 7.800 orang. Salah satu penyebabnya adalah karena kurang zat besi, kalau kurang zat besi kemudian perempuan hamil dan saat melahirkan itu kemungkinan meninggalnya tinggi karena kekurangan darah.

“Jadi tugasnya saya memastikan adik-adik ini sehat dan harus dipastikan zat besinya cukup. Itu mesti minum tablet tambah darah. Tabletnya diminum pada saat remaja, sebelum hamil dan setelah melahirkan,” ujar Menkes Budi.

“Titipan saya itu saja, agar teratur minum tablet tambah darah untuk mencegah kematian ibu, rajin berolahraga dan makan makanan bergizi agar sehat,” kata Menkes Budi.

Pemberian TTD merupakan upaya preventif untuk mencegah kematian ibu pada saat melahirkan. Upaya itu dilakukan sejak seorang perempuan berusia remaja.

Aksi bergizi ini menjadi salah satu upaya intervensi di hulu pada Remaja Putri yaitu remaja putri mengonsumsi TTD 1 tablet setiap minggu, skinning anemia serta edukasi secara terus menerus kepada remaja putri. 

Ayo dukung #AksiBergizi karena #AksiBergiziBikinGlowing dan #CegahStuntingItuPenting

(ma)