Loading...

Mari Dukung Ibu Untuk Menyusui



Jakarta - Pekan Menyusui Sedunia selalu peringati pada tanggal 1-7 Agustus di setiap tahunnya secara global di dunia dan serentak secara nasional di Indonesia. Peringatan ini sebagai dukungan atas harapan dan cita-cita bahwa tidak hanya ibu yang bertanggung jawab untuk memiliki pengetauan serta kemauan untuk menyusui, namun semua pihak diharapkan dapat memiliki pengetahuan tentang ASI eksklusif sehingga mau dan mampu mendukung ibu untuk menyusui.

Dirjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI dr Endang Maria Sumiwi, MPH dalam sambutannnya pada Webinar “Literacy dan Dukungan Para Pihak Dalam Mendukung Keberhasilan Menyusui” sebagai rangkaian Pekan ASI Sedunia (18/8) menyampaikan bahwa menyusui sebagai salah salah satu investasi terbaik untuk kelangsungan hidup dan meningkatkatkan kesehatan. “Menyusui juga sangat mendukung perkembangan sosial serta ekonomi individu dan bangsa”, ujar Dirjen Endang Meskipun saat ini angka inisiasi menyusui secara global relative tinggi namun ternyata hanya 40 persen dari semua bayi dibawah 6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif. Sementara hanya 45 persen bayi yang mendapatkan ASI hingga usia 24 bulan.

Dari data tersebut terlihat bahwa belum semua bayi mendapatkan haknya untuk menyusu. Padahal menyusu merupakan hak bagi semua bayi dan menyusui merupakan hak bagi semua ibu. Sejalan dengan tema global pada Pekan Menyusui Sedunia tahun 2022 ini “Step Up For Breastfeeding, Educate and Support” terlihat bahwa pada dasarnya ibu dan bayi berhak untuk mendapatkan dukungan dari semua pihak untuk mendapatkan haknya. Dukungan masyarakat dan berbagai pihak untuk keluarga juga perlu ditingkatkan dalam memberikan edukasi terkait pentingnya ASI bagi ibu dan bayi. “Saya berharap ilmu, informasi dan pesan terkait ASI eksklusif tidak hanya sebagai pengetahuan atau pemahaman saja, melainkan sebarkan untuk dapat diimplementasikan dalam mendukung praktik menyusui demi generasi yang lebih baik dan lebih sehat”, tegas Dirjen Endang.

Pemberian ASI juga sangat penting untuk stunting, dimana Indonesia ditargetkan menurunkan stunting menjadi 14% pada tahun 2024. Prof Dr, Dr Hamam Hadi, Ms., Sc.D., Sp.Gk dari Universitas Alma Ata mengungkapkan bahwa dari hasil penelitian yang dilakukannya terlihat bahwa pemberian ASI eksklusif berpeluang menjadi faktor modifikasi dalam penurunan prevalensi stunting “Hasil penelitian menunjukan status ekonomi tidak menjadi satu-satunya faktor dominan dalam penurunan stunting. Pemberian ASI Eksklusif berpengaruh untuk menurunkan kejadian stunting”, ujar dr Hamam.

Ini berarti sangat penting untuk mendukung ibu menyusui minimal selama 6 bulan. Selain itu, dukungan terhadap ibu yang menyusui sangat penting dalam mendukung keberhasilan menyusui. Masih dari hasil penelitiannya terlihat bahwa seringkali ibu mendapatkan hambatan keberhasilan menyusui dari lingkungan terdekatnya, misalnya suami dan orangtua. Sehingga peningkatan pengetahuan tentang menyusui dan ASI eksklusif menjadi sangat penting, tidak hanya untuk ibu tetapi juga bagi keluarga hingga masyarakat luas.

Meningkatkan praktik menyusui yang optimal dapat mencegah kematian anak dan kematian ibu. Tidak menyusui juga ternyata berdampak pada tingkat kecerdasan yang rendah dan mengakibatkan kerugian ekonomi negara. Menyusui secara eksklusif selama minimal 6 bulan juga mendukung penurunan stunting. Oleh karena itu dibutuhkan kerja keras bersama untuk mendukung semua ibu menyusui di Indonesia. Tidak hanya tau, tapi diharapkan semua ibu mau dan mampu untuk menyusui sehingga stunting menurun, anak Indonesia sehat dan tercapai Indonesia Emas 2045. (epw)