Loading...

Transformasi Layanan Primer Kemenkes Fokus Pada Pencegahan di Puskesmas dan Posyandu


Ogan Ilir  - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin akan memfokuskan pelayanan kesehatan ke arah pencegahan atau promotif preventif. Hal itu dilakukan melalui transformasi kesehatan pilar pertama terkait layanan primer.

Ada 6 pilar transformasi kesehatan yang diinisiasi Menkes Budi, yakni Transformasi Layanan Primer, Transformasi Layanan Rujukan, Transformasi Sistem Ketahanan Kesehatan, Transformasi Sistem Pembiayaan Kesehatan, Transformasi SDM Kesehatan, dan Transformasi Teknologi Kesehatan. Itu adalah 6 kerangka besar yang akan dikejar sampai tahun 2024.

Pelayanan kesehatan yang difokuskan ke arah pencegahan merupakan transformasi kesehatan di pilar pertama yakni transformasi layanan primer. Transformasi ini adanya di Puskesmas dan Posyandu.

Sebagai langkah awal, Menkes Budi melalukan uji coba pelayanan kesehatan primer di Puskesmas Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Dilakukan juga intervensi Posyandu Prima di Desa Tanjung Gelam yang masuk wilayah Puskesmas Indralaya.

Menkes Budi melakukan peninjauan langsung ke Puskesmas dan Posyandu Prima tersebut pada Rabu (27/7) untuk melihat kemajuan uji coba pelayanan kesehatan primer.

Di Posyandu Prima Desa Tanjung Gelam terdapat pelayanan Posyandu Balita, Posyandu Remaja, dan Posyandu Lansia.

Posyandu Balita melayani ibu hamil, bersalin, nifas, bayi, Balita, dan pra sekolah. Posyandu Remaja mencakup layanan usia sekolah dan remaja, serta usia Produktif. Dan yang terakhir Posyandu Lansia melayani orang lanjut usia.

“Kita sedang melakukan revitalisasi Posyandu supaya fokus ke depannya lebih banyak menjaga orang agar tetap sehat bukan mengobati orang yang sakit,” ujar Menkes di sela kunjungannya.

Jika dinilai dari sisi biaya, menjaga orang tetap sehat lebih murah daripada mengobati orang sakit. Tidak hanya itu, orang yang kesehatannya dijaga akan memiliki kualitas kesehatan yang lebih baik.

Dikatakan Menkes, sebenarnya Posyandu sudah berdiri lama tapi sempat tidak tersentuh padahal mereka adalah kader-kader kesehatan yang paling depan yang paling bisa menjaga kesehatan masyarakat.

“Sekarang kita sedang mempersiapkan bagaimana mereka bisa kita sentuh agar bisa kembali lagi melayani kesehatan masyarakat. Sekarang Posyandu bisa melayani bayi, Ibu, anak-anak, remaja, dewasa, sampai lansia,” tutur Menkes Budi.

Selain Kabupaten Ogan Ilir, uji coba pelayanan kesehatan primer ini akan dilakukan juga di 8 kabupaten/kota lainnya yakni Puskesmas Banjarwangi Kabupaten Garut Jawa Barat, Puskesmas Kebon Sari Kota Surabaya Jawa Timur, Puskesmas Jereweh Kabupaten Sumbawa Barat NTB, Puskesmas Talaga Bauntung Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan, Puskesmas Maros Baru Kabupaten Maros Sulawesi Selatan, Puskesmas Arso III Kabupaten Keerom, Papua, Puskesmas Ohoitahit Kota Tual Maluku, dan Puskesmas Niki-Niki Kabupaten Timor Tengah Selatan NTT.

“Ini (Puskesmas dan Posyandu di Ogan Ilir) salah satu pilot project dari 9 kabupaten/kota yang akan dilakukan uji coba pelayanan kesehatan primer,” ucap Menkes.

Saat ini ada sekitar 12 ribuan Puskesmas yang tersebar di semua wilayah Indonesia.

Ada sejumlah program yang akan dilakukan di antaranya menata ulang jaringan fasilitas layanan kesehatan, seperti merevitalisasi Posyandu agar menjadi lebih formal.

Nantinya Posyandu ini bisa diatur oleh Kementerian Dalam Negeri atau Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Posyandu ini akan bertindak secara lebih aktif bukan hanya melayani bayi dan ibu tapi akan melayani seluruh siklus hidup termasuk remaja, dewasa, dan Lansia.

Nanti akan memiliki sejumlah layanan standar seperti misalnya 20 layanan dasar promotif preventif di level Posyandu tingkat dusun atau tingkat RT/RW.

Di atas Posyandu tingkat dusun ada Posyandu Prima. Nanti akan dibangun Posyandu Prima di 85.000 desa atau kelurahan. Posyandu Prima ini mungkin ada 30 sampai 40 layanan dasar promotif preventif.

Di atas Posyandu Prima ada Puskesmas di setiap Kecamatan. Layanan dasar promotif preventif mungkin naik jadi 50 layanan dasar.

Kemudian lebih tinggi lagi naik ke rumah sakit yang ada di kabupaten/kota. Itu mungkin udah 100 layanan dasar promotif preventif. Selanjutnya naik lagi ke rumah sakit di tingkat provinsi, mungkin jadi 300 layanan kuratif.

Kemudian rumah sakit rujukan nasional itu mungkin bisa 400 atau 500 layanan kuratif.

“Jadi kita sudah definisikan layanan kesehatan mulai dari promotif preventif, sampai kuratif. Nanti itu akan distandarkan dan nanti akan diformalkan jaringan-jaringannya,” tutur Menkes Budi.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor hotline Halo Kemenkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id (D2).

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik
drg. Widyawati, MKM