Pentingnya Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga Tahun 2020

Dipublikasikan Pada : Jum'at, 03 Juli 2020, Dibaca : 191 Kali  

Jakarta - Sebagai upaya mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) target 6.1 dalam pemenuhan kualitas air minum yang aman beserta pemantauannya bagi seluruh rakyat Indonesia dengan target tahun 2030, mencapai akses air minum yang aman dan terjangkau untuk semua, serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan kualitas lingkungan, Indonesia perlu memiliki baseline data penyelenggara air air minum baik institusi, komunal dan Depot Air serta penyelenggara air minum dalam kemasan. Dalam hal ini Kementerian Kesehatan, Direktorat Kesehatan Lingkungan ditunjuk sebagai penanggung jawab untuk pengawasan air minum, sehingga perlu menyediakan data dasar dan capaian akses air minum aman.

 

Pada Tahun 2020 Direktorat Kesehatan Lingkungan bersama Pusat Upaya Kesehatan Masyarakat Badan Litbangkes menyiapkan pelaksanaan kegiatan Studi Kualitas Air Minum di Rumah Tangga (SKAMRT) dengan tujuan diperolehnya data dan informasi tentang kualitas air minum di tingkat rumah tangga di Indonesia yang akan dijadikan acuan sebagai baseline indikator keberlanjutan. Sebagai langkah awal pelaksanaan kegiatan dan koordinasi dengan seluruh Provinsi dan Kabupaten/Kota, Direktorat Kesehatan Lingkungan mengadakan Sosialisasi Persiapan Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) Tahun 2020 SKAMRT) Tahun 2020 yang diselenggarakan untuk 5 Regional di seluruh Indonesia (Regional Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat) secara virtual (3/7).

 

Studi Kualitas Air Minum di Rumah Tangga (SKAMRT) yang menggerakan Sanitarian/PJ Kesling di daerah sebagai enumerator dilaksanakan di 34 Provinsi, 514 Kabupaten/Kota akan mengambil sampel dari 2.500 Blok Sampel (BS) atau 10 Rumah Tangga per Blok Sensus (BS). Adapun data hasil dari SKAMRT diharapkan Pemerintah memiliki data sesuai dengan mandat SDGs Internasional; ketersediaan data masyarakat yang memanfaatkan air dari sumber yang tidak layak bahkan tidak aman dikonsumsi dapat dimanfaatkan untuk mempertajam perencanaan nasional terkait peningkatan sanitasi dan pemanfaatan air minum yang berkualitas; sebagai data dukung dalam perencanaan penurunan stunting; serta sebagai data dukung pencegahan COVID-19.(dwt)